Sabtu, 04 Juli 2015

Empat Hari Melihat Upaya-Upaya Desa Tenganan Pegringsingan Dalam Merekontruksi Identitas Budaya Melalui Aturan-Aturan Adat


Empat Hari Melihat Upaya-Upaya Desa Tenganan Pegringsingan Dalam Merekontruksi Identitas Budaya Melalui Aturan-Aturan Adat
Oleh: Dita
Perilaku manusia merupakan suatu rangkaian budaya yang saling berkaitan antara manusia dan lingkungan untuk memperthankan keberlangsungan hidup baik secara kelompok maupun secara individu. perilaku manusia juga tidak terlepas dengan ideologi-ideologi yang menjadi prinsip dasar serta menjadi faktor besar yang mendorong berjalannya interaksi sosial. ideologi kelompok masyarakat yang menjadi konsep besar untuk merekontruksi nilai budaya dalam kelompok masyarakat tertentu.
mempertahankan perilaku atau adat istiadat dalam kelompok masyarakat bukan hal yang mudah, apalagi dengan kuatnya arus globalisasi yang dapat menggiring atau menciptakan ideologi baru sehingga dapat berpengaruh pada perilaku manusia yang sudah dianggap baku pada zamannya. setiap perilaku manusia dalam kelompok masyarakat tentunya berlandakan pada prinsip-prinsip dasar baik dari segi moral dan ikatan adat-istiadat yang sudah terbentuk dan terkonsep dalam pradigma setiap individu masyarakat.
Desa tenganan pegringsingan merupakan desa yang masih kuat pada adat istiadat yang sejak lama terbentuk, masyarakatnya masih patut pada aturan-aturan lokalitas dan masih meyakini mitos-mitos yang turun-temurun hingga berakar dan menjadi keyakinan setiap individu masyarakat. desa tenganan pegringsingan masih patut akan aturan-aturan adat dan masih meyakini akan adanya kekuatan-kekuatan alam yang tidak dapat dirasionalkan. hal demikian sangat terlihat dengan muculnya ikon-ikon yang berbeda dengan ikon-ikon yang terdapat wilayah lain. perbedaan yang paling nampak jika dilihat dari bangunan dimana bentuk tersebut masih tergolong  sederhana dan berberapa bangunan yang masih bersifat mistis. bangunan yang berjejer sepanjang jalan masih sangat disakralkan karena masih berdasar pada fungsi setiap  bangunan.
bangunan yang berjejer setelah memasuki gerbang desa tenganan adalah bangunan tempat ritual. bangunan atau Bale (bale-bale). bale adalah tempat belangsungnya prosesi atau upacara adat, dari sekian banyak bale yang berjejer mempunyai fungsi yang berbeda-beda sesuai dengan tujuan upacara adat tersebut.
banyak hal yang menarik yang dapat kita jumpai ketika berkunjung ke desa tenganan dimana upacara adat yang begitu banyak serta ikon-ikon yang terlihat kuno dijadikan properti sebagaimana selayaknya wilayah parawisata karena kuno yang kita kenal itu menjadi moderen buat masyarakat tenganan.
pada awalnya berkunjung ke desa tenganan, penulis merasa bahwa masyarakatnya begitu ketinggalan jaman dimana mereka masih mengagungkan benda-benda lama dan mengistimewahkan yang kuno, tetapi beberapa hari kemudian anggapan ini berbalik arah dan bahkan berpendapat bahwa masyarakat-masyarakat tersebut tidak ketinggalan, dimana terlihat ketika diajak bicara dari segi wawasan mereka luar biasa dan bahkan cara berpakaian jika tidak melaksanakan upacara ataupun saat bersantai-santai juga tidak ada bedanya dengan masyarakat yang di anggap sebagai masyarakat dalam kota maju.
meski demikian diatas tetapi yang namanya upacara adat itu tetap dijalankan dengan baik dan hal demikian yang menarik dimana masyarakat yang sebenarnya moderen tetapi tetap mentradisikan dirinya.
Desa tenganan pegringsingan terletak tidak jauh dari Ibu kota karangasem. berada di lembah kedua bukit tenganan. jika dilihat dari letak wilayah desa tenganan pegringsingan termasuk dalam akses arus globalisasi karena letaknya tidak begitu jauh dari kota. ketika dilihat secara kasat mata maka desa tenganan mempunyai keunikan dimana masyarakatnya masih mampu mempertahankan tradisi-tradisi lama hingga sekarang.
upacara-upacara adat masih menjadi rutinitas yang wajib dilaksanakan oleh masayarakat pegringsingan, ideologi masyarakat masih sangat meyakini akan adanya kekuatan-kekuatan alam yang irasional bukan hanya pelaksanaan upacara adat bahkan pola-pola kehidupan yang tradisi masih dipertahankan, dapat dilihat dari segi bangunan rumah, keseluruhan masih menggunakan atap yang berasal dari anyaman sebagai hasil kreatif masyarakat lokal. sangat jarang bangunan yang terdapat ditenganan pegringsingan menggunakan atap yang terbuat dari genteng ataupun dari seng. selain itu bentuk bangunan tidak mempunyai lantai yang bertingkat seperti rumah pada umunya yang ada pada wilayah yang dipadati penduduk. bentuk bangunan masih sangat sederhana mulai dari pagar masih sederhana dan model rumahnya sangat terikat pada aturan adat yang sudah ada. bentuk rumah masyarakat tenganan pegringsingan juga terpengaruh dengan fungsinya. setiap bagian rumah ada beberapa bagian yang wajib diadakan. misalnya pagar yang berbentuk bangunan bali kuno dan ruang depan sebagai tempat sesajian setiap harinya.
mengenai sesajian masyarakat bali pada umumnya masih menggunakan sesajian, baik dari dalam desa tenganan maupun diluar. sesajian terdapat dimana-mana seperti dipinggir jalan, depan rumah, bahkan dikendaraan pun masih diselipi bunga dan dupa. namun disini penulis tidak dapat membahas lebih jauh mengenai sesajian di bali melaikan lebih fokus pada ikon-ikon yang terdapat didesa tenganan.
jika dilihat dari segi perkembangan tehnologi ditenganan terlihat sangat maju dimana setiap rumah mempunyai televisi dan setiap keluarga mempunyai motor dan bahkan di pure itu sendiri sebagai wadah berlangsungnya upacara adat tetapi masih ada televisi sebagai hiburan para masyarakat yang melaksanakan upacara. Handphone juga tidak lagi asing bagi masyarakat tenganan dimana pada umumnya setiap keluarga mempunyai handphone.  hal yang paling menarik untuk dibahas dimana sekelompok masyarakat masih mampu mempertahankan tradisi sebagai warisannya namun tidak menolak tehnologi.  ketradisionalan masyarakat tenganan pegringsingan sangat konsisten dengan upacara adat sangat terlihat pada banyaknya pure yang menjadi wadah pelaksanan adat. begitu banyak berjejer mulai dari pintu masuk desa sampai pada batas desa tenganan pegringsingan itu sendiri. setiap jenis rangkaian upacara adat mempunyai tempat tersendiri yang disebut pure.
pure adalah bale' atau rumah-rumah kecil yang hanya digunakan untuk berdoa ataupun melaksanakan ritual adat.
masyarakat tenganan juga terbagai dua yaitu tenganan pegringsingan  dan banjar pande. tenganan pegringsingan ini yang menjadi panutan antara semua masyarakat yang ada, masyarakat tenganan asli berada dibawah bukit ditempat pesta adat dilaksanakan, sedangkan banjar pande berada diluar dan juga berada dibukit yang mengelilingi desa tenganan. bukit-bukit menjadi tempat usaha atau wadah mata pencaharian buat masyarakat banjar pande dan bukit-bukit ini juga ternyata masih sepenuhnya milik tenganan pegringsingan.
masyarakat tenganan pegringsingan merupakan masyarakat suku tertua di Bali dan suku yang mampu menjalin kolerasi jaman dan tradisi yang mereka punya. hal yang menarik untuk dibahas adalah bagaimana uapaya-upaya masyarakat tenganan pegringsingan dapat menarik seluruh masyarakat dan menyatukan ideologi masyarakat dalam mepertahankan ciri khas sukunya diera global ini.
pembahasan ini lebih spesifik pada aturan-aturan adat yang menjadi pengikat dan prinsip dasar bagi masyarakat tenganan pegringsingan untuk menjalankan upacara-upacara adat secara rutinitas.
dalam pembahasan ini penulis mencoba melihat ideologi yang mengikat dan menjadi pengaruh kuat untuk mempertahankan ketradisionalannya. Sedikit meminjam Istilah-istilah Pierre Bourdieu yaitu habitus, ranah (field), dan kekerasan simbolik. Ia meluaskan gagasan modal (capital) ke kategori-kategori seperti modal sosial, modal budaya, dan modal simbolik. Bagi Bourdieu, setiap individu menempati suatu posisi dalam ruang sosial multidimensional. Ruang itu tidak didefinisikan oleh keanggotaan kelas sosial, namun melalui jumlah setiap jenis modal yang ia miliki. Modal itu mencakup nilai jejaring sosial, yang bisa digunakan untuk memproduksi atau mereproduksi ketidaksetaraan. Dalam kajian lebih menekankan kepada bagaimana kelas-kelas sosial, khususnya kelas intelektual dan kelas penguasa, melestarikan keistimewaan sosial mereka lintas generasi ke generasi. Dan bagaimana membangun mitos sebagai sebuah landasan untuk melegitimasi ideolgi hingga akhirnya diyakini oleh masyarakat dalam wilayah tenganan karena cara berpikir dan bertindak, bahkan cara mengembangkan perasaan tidak dilakukan orang tanpa patokan, tetapi mengikuti satu pola tertentu, suatu pola yang sudah dikenal dan disepakati bersama dan hendak dilestarikan eksistensinya. Anggota baru yang masuk ke dalam satuan budaya itu karena kelahiran atau sebagai pendatang, dan belum mengenal pola tingkah laku masyarakat itu, diwajibkan mengenal dan mempelajari serta membiasakan diri untuk  dan bertindak sesuai dengan aturan kebudayaan setempat (Hendropuspito:1989). Disisi lain ada beberapa factor yang mendukung terjadinya dominasi berikut seperti modal social, modal budaya, dan modal simbolik. Hal yang menjadi focus kajian untuk merefresentasikan konsep-konsep dominasi yang terjadi di desa tenganan pegringsingan.
Rumusan masalah
Faktor apa yang mampu mendorong lestarinya upacara-upacara di desa tenganan?
Bagaimana peranan masyarakat banjar pande dalam setiap upacara di desa tenganan pegringsingan.?

Pembahasan
1.      Aturan yang Berlaku di Desa tenganan pegringsingan
Desa tenganan pegringsingan merupakan wilayah yang dinaungi oleh dua pemerintahan yaitu pemerintahan  desa dan pemerintahan yang diatur oleh adat, dua  atauran tersebut berjalan secara kolektif sebagai pemenentu aturan yang wajib dipatuhi oleh seluruh masyarakat tenganan pegringsingan.
Masyarakat tenganan pegringsingan mempunyai aturan tersendiri yang berbeda dengan desa-desa lainnya yang ada dibali, selain karena aturan adat yang ditaati juga masih berpegang erat dengan keyakinan yang sudah mendasar pada setiap individu masyarakat dimana masih takut akan hal-hal yang mistis.
Jika dilihat aturan yang berlangsung ditenganan, aturan mempunyai peranan kuat dalam meletarikan budayanya. Dimana aturan itu menjadi panutan terhadap semua masyarakat desa tenganan pegringsingan. Aturan adat yang mengatur proses berlangsungnya upacara-upacara. Aturan tersebut sudah baku dan disepakati oleh setiap masyaraakat tenganan. Pemelihan pemerintahan juga tidak berdasar pada suara masyarakat melaikan ditentukan secara kedudukan, kedudukan tersebut bukan strata social tetapi dapat dikatakan senioritas dalam artian dapat bergati secara turun temurun.
Dimasyarakat tenganan sudah ada aturan mengenai pemelihan pemerintahan adat tersebut. Orang yang bisa jadi pemimpin adat didesa tenganan adalah orang asli tenganan yang tidak pernah melanggar adat dan belum mempunyai menantu karena ketika orang sudah mempunyai menantu maka posisinya digantikan oleh anaknya  yang sudah kawin. Selain itu juga pemimpinan ini dipilih berdasarkan keturunan jadi pemimpin adat ditengan bentuknya seperti warisan. Jika anak sudah kawin dengan orang asli tenganan maka anak itu yang diwajibkan melajutkan kedudukannya sebagai pemimpin adat. Dan orang tuanya menjadi masyarakat biasa dan bukan masyarakat pegringsingan.
Masyarakat tenganan tidak terdapat strata social tetapi ada perbedaan kelompok masyarakat. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa dimasyarakat tenagan mempunyai tiga kelompok masyarakat. Yang pertama adalah masyaraka pegringsingan yang merupakan masyarakat asli  yang tidak pernah melanggar adat dan masih mempunyai warisan desa dan masih dapat menjadi pemimpin adat atau kepala desa. Masyarakat pegringsingan ini merupakan masyarakat yang masih mendapatkan warisan dari desa, setiap masyarakat pegringsingan masih mempunyai hak untuk mendapat warisan dari desa selama mereka tidak melanggar adat dan anaknya belum kawin dan ketika anaknya sudah kawin maka orang tuanya sudah tidak punya hak lagi untuk mendapat warisan dan hak waris itu berpindah kepada anaknya.
Orang tua tersebut sudah menjadi masyarakat tenganan dan bukan pegringsingan. Masyarakat tenagan adalah masyarakat asli tetapi sudah tidak mempunyai lagi kedudukan karena sudah diwariskan kepada anaknya. Masyarakat tenagan masih mengikuti upacara  tetapi tidak semua upacara diikuti hanya pada upacara tertentu dan tidak untuk upacara desa. Jika salah satu dari mereka melakukan pelanggaran misalnya kawin dengan orang luar tenganan maka masyarakat tersebut pindah menjadi masyarakat banjar atau masyarakat yang ada dipinggiran yang sudah tidak punya hak lagi mengenai warisan desa dan tidak mengikuti lagi upacar-upacara desa.
Di desa tengan pegringsingan terdapat dua macam upacara yang pertama adalah upacara secara umum dalam artian upacara religius yang berupa ketuhanan atau keagaman. Upacara keagaman ini masih dilakukan oleh seluruh masyarakat karena bentuknya ketuhanan dan tidak ada larangan dari desa atau pemimpin adat. yang kedua adalah upacara adat yang diadakan oleh desa. Upacara adat tersebut hanya orang-orang tertentu yang dapat melaksanakannya seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa hanya masyarakat yang belum pernah melanggar aturan desa yang bisa mengikuti acara tersebut yaitu masyarakat pegringsingan. masyarakat tenganan dan banjar pande bukan berarti tidak ikut campur tangan dalam pelaksanaan upacara tersebut tetapi masyaraakat tenganan masih ikut membantu persiapan acara tersebut dan masyarakat banjar yang selalu meberikan subangan hasil bumi untuk digunakan dalam upacara adat tesebut.
 Peranan masyarakat banjar pande terhadap upacara yang berlangsung sangat besar. Masyarakat banjar pande merupakan mobalitas yang dipasilitasi tempat tinggal dan sawah yang luas oleh masyarakat tenganan. Banjar pande dapat dikatakan pekerja atau penggarap sawah dan kebun milik masyarakat pegringsingan sehingga hasil bumi yang dipakai dalam upacara adat itu berasal dari banjar pande.
 1. Kekayaan desa tenganan sebagai modal utama dalam merekontruksi nilai budaya.
Desa tenganan merupakan desa yang kaya akan hasil alam karena mempunyai tanah seluas 680 hektar  dan 11 aliran irigasi untuk pesawahan. Kekayaan tersebut menjadi salah satu penunjang akan lestarinya dan sejahteranya masyarakat desa tenganan pegringsingan.
Desa tenganan pegringsingan mempunyai kebun dan sawah yang luas karena dari dulu desa melarang untuk menjual tanahnya. Kecuali kepada orang asli tengan itu sendiri. Karena desa tengan mempunyai tanah yang luas akhirnya menerimah penduduk dari luar dengan ketentuan mampu membayar sebanyak Rp.30.000/th dan tentunya mengikuti aturan-aturan yang sudah baku ditenganan. Misalnya masyarakat banjar pande yang pendatang dan diberikan tanah untuk membangun rumah dengan ketentuan menggarap sawah milik desa tenganan yang terdapat dibalik bukit tenganan.
Karena kebanyakan pendatang ini adalah korban bencana alam yang terdapat dibalik bukit tenganan yang mayoritas tidak mempunyai tempat tinggal. akhirnya memilih hidup dibukit tenganan dan mampu menggarap sawah yang diberikan dan ditentukan oleh masyarakat desa tenganan pegringsingan.
Hasil sawah dan kebun yang digarap oleh masyarakat banjar pande tersebut dibagi oleh desa. Beberapa masyarakat banjar pande mengatakan bahwa hasil bumi yang diperoleh itu diberikan oleh desa tenganan. Mereka baru dapat hasil ketika desa sudah memberinya sebagai gajinya. Cara pembagiannya pun sudah diatur misalnya masyarakat banjar pande manghasilkan satiap 100 liter beras, masyarakat banjar pande mendapat 40% dan desa mendapat 60% dan secara biaya perawatan sawah juga dibantu oleh desa. Misalnya masyarakat banjar pande membutuhkan uang Rp.500,000 untuk mebeli pupuk. Maka tanggungan desa adalah 50% dan 50% untuk masyarakat banjar pande.
Masyarakat banjar pande juga tidak dapat melebihkan nilai kebutuhan pupuk karena ada pihak desa yang memang ditugaskan untuk mengatur dan melihat setiap saat  hasil dan kebutuhan masyarakat banjar pande. Menurut beberapa masyarakat banjar pande, yang mengatur serta mengontrol hasil bumi ada enam sampai sepuluh orang yang sudah ditugaskan oleh desa, namanya klieng krama
Terlepas dari kekayaan desa tenganan disini dapat terlihat bahwa hasil bumi sepenuhnya diperoleh oleh masyarak banjar pande. Hasil yang dibagi untuk warga pegrinsingan sebagai warisan pada masyarakat yang tidak pernah melanggar aturan, selain itu juga hasil bumi tersebut dialihkan untuk upacara adat. sehingga masyarakat tengan sangat tabuh ketika setiap bulan tidak mengadakan upacara adat. Dan kita tau sendiri bahwa kebanyakan yang menghambat keberlangsungan kegiatan sosial adalah dana. Jadi menurut penulis sangat tabuh jika masyarakat tenganan tidak mengadakan acara adat sementara sumber dananya sudah pasti. Dan tidak heran jika melihat desa tenganan pegringsingan yang setiap harinya dipenuhi dengan upacara adat.
Keberadaan masyarakat banjar pande sangat terlihat kontribusianya terhadap lestarinya budaya masyarakat desa tenganan pegringsingan, kebanyakan hasil bumi yang dijadikan upacara desa meski masyarakat banjar pande sebenarnya sama sekali tidak mendapat timbal balik akan adanya upacara desa tersebut.
Salah satu penyebab yang mebuat aturan-aturan tersebut tetap dipatuhi oleh masyarakat banjar pande karena mereka sudah diberi tempat tinggal dan hanya membayar murah yaitu Rp.30,000/th. Fasilitas yang diberikan ini menjadi sebuah tameng besar buat masyarakat desa tenganan. Acaman besar buat masyarakat banjar pande jika tidak mengikuti aturan yang ada di desa tenganan adalah diusir dari tempat tinggalnya dan hanya bisa membawa pakaian yang lengket dikulit tanpa membawa barang dan harta lainnya. Hal tersebut yang membuat ketakutan besar buat masyarakat banjar pande jika ingin berbuat diluar dengan aturan desa yang sudah baku.
Menurut penulis peristiwa seperti diatas sangat menarik dan sangat kuat perananya untuk mempertahankan budayanya. Jika dikota maju memanfaatkan kekayaan alam dan keseniannya untuk meningkatkan ekenomi kreatif maka masyarakat desa tenganan memanfaatkan kekayaanya untuk melestarikan budayanya.
  
Kesimpulan
Desa tenganan pegringsingan merupakan wilayah yang mengupayakan kekayaanya desa untuk melestarikan budayanya. Desa tenganan bukan berarti masyarakatnya yang ketinggalan, melainkan jauh melampaui wilayah yang dianggap kota maju. Masyarakat tenganan mentradisionalkan dirinya karena mempunyai strategi tersendiri yang terlepas dari campur tangan aturan Negara.
Masyarakat tenagan memperkuat aturan lokalitas karena menurutnya itu lebih mampu menjamin keberlangsungan hidup masyarakat yang lebih nyaman, selain itu juga upaya mentradisionalkan diri sebagai cara mencuri focus pandangan. Dan saat ini sudah terlihat dimana desa tenganan sudah menjadi tempat wisata para turis.
Satu keuntungan besar bagi masyarakat desa tenganan pegringsingan karena masih mampu menarik perhatian masyarakat diluar desa tenganan pegringsingan dengan caranya dan system lokalitasnya.
Disni dapat memberikan kita pengetahuan bahwa hadirnya ideology tidak selamanya dapat menguntungkan untuk seluruh masyarakat. Dua aturan yang menaungi masyarakat tenganan memculkan manfaat yang sangat besar buat masyarakatnya, namun disisi lain juga terdapat pemanfaatan bagi masyarakat banjar pande dimana mereka hanya mempunyai kedudukan sebagai pekerja untuk membantu lestarinya upacara adat di desa tenganan pegringsingan.

Keintelektualan tidak selamanya memberikan kontribusi melainkan keintelektualan sendiri dapat dijadikan sebagai modal dan kekuatan untuk mengeksploitasi. Menurut penulis masyarakat desa tenganan adalah masyarakat yang sejahtera karena mampu menerapkan keintelektualannya melalui system untuk mengatur strtegi budayanya. 

KELONG-KELONG PALLOSERANG SEBAGAI PENYALURAN FALSAFAH HIDUP (SIRI’ NA PACCE) KEPADA ANAK DI DESA BARANA KECAMATAN BANGKALA BARAT KABUPATEN JENEPONTO

KELONG-KELONG PALLOSERANG SEBAGAI PENYALURAN FALSAFAH HIDUP (SIRI’ NA PACCE) KEPADA ANAK DI DESA BARANA KECAMATAN BANGKALA BARAT KABUPATEN JENEPONTO
Oleh: Dita
Jurusan Etnomusikologi, Institut Seni Indonesia Yogyakarta

I.          PENDAHUALUAN
 Latar Belakang
Musik merupakan salah satu perilaku manusia yang disebut sebagai bagian dari budaya. Musik adalah aktivitas budaya yang sangat akrab dengan kehidupan manusia.[1] Meriam mengklasifikasikan sepuluh fungsi musik dalam masyarakat, yaitu sebagai (1). respon fisik; (2) sarana komunikasi; (3) ekspresi emosi; (4) representasi simbolik; (5) pengetahuan konformitas terhadap norma sosial; (6) validasi intuisi sosial dan ritual keagamaan; (7) kontribusi kepada kontinuitas dan stabilitas budaya; (8) kontribusi kepada integrasi masyarakat; (9) kesenangan terhadap keindahan, dan (10) segi hiburan.[2] Musik dianggap suatu perilaku manusia yang tidak lahir dengan sendirinya dalam ruang yang kosong, melainkan musik hadir dimasyarakat karena mempunyai fungsi serta manfaat terhadap masyarakat. musik dianggap sebagai suatu fenomena yang sangat penting sehingga musik dijadikan sebagai objek kajian dengan disiplin ilmu etnomusikologi dengan tujuan menggali makna-makna serta manfaat serta kolerasi yang terkandung dalam musik tersebut.
            Kelong-Kelong palosserang artinya nyanyian untuk menidurkan anak. Dalam nyanyian tersebut terdapat beberapa kalimat yang menggambarkan tentang bagaimana kasih sayang serta kecintaan seorang ibu dan hal yang lebih penting lagi, dalam kelong-kelong palloserang juga dianggap sebagai salah satu bagian dalam pembelajaran tentang perilaku-perilaku yang baik yang sesuai dengan adat istiadat masyarakatnya.[3] penulis menganggap ini musik yang sangat penting untuk dikaji dimana musik tersebut mempunyai peranan penting dalam pembelajaran anak-anak.
Keluarga merupakan basis pertama dan utama dalam berbagai rangkaian proses inteaksi sosial yang dialami individu selama hidupnya. Dalam sebuah hadits, menurut kesaksian Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda: “Setiap bayi dilahirkan di atas fitrah (mentauhidkan Allah), kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi, atau seorang Nasrani atau seorang Majusi.”(HR.Muslim).[4]Hal tersebut dimungkinkan karena kedudukan keluarga sebagai komponen terkecil dari struktur masyarakat, tempat pertama bagi individu mengenal manusia lain diluar dirinya. Disamping itu juga didalam keluargalah anak mulai mengenal peranan dirinya sebagai manusia. Proses terjadinya interaksi sosial didalam lingkungan keluarga dimulai sejak kelahiran, kelong-kelong palloserang ini merupakan wujud yang nyata dari hal itu diberikan dalam bentuk kasih sayang yang memberi anak rasa nyaman, rasa diterima, serta rasa diakui keberadaanya. Dengan demikian diatas sehingga dalam penulisan makalah ini diberi judul “Kelong-Kelong Palloserang Sebagai Penyaluran Falasafah Hidupa di Desa Barana Kec. Bangkala Barat Kabupaten Jeneponto’’. Kelong-kelong dianggap penting karena salah satu perilaku manusia yang sangat berperan penting dalam pembentukan ideologi.
Ideologi itu sangat dibutuhkah oleh setiap manusia dimana dianggap sebagai prinsip dasar dalam kehidupan seperti yang dikatakan oleh Louis Althuser  Ideologi sangat penting karena memberikan gambaran tentang bagaimana semestinya manusia menjalani hidupnya.[5] Selain itu, Lukacs juga mengemukakan bahwa ideologi merupakan konsep kesadaran kelas dalam arti sekumpulan pengetahuan yang dipercayai oleh suatu kelas sosial.[6] Sesungguhnya setiap orang membutuhkan ideologi, karena setiap orang perlu memiliki keyakinan tentang bagaimana semestinyadalam menjalankan kehidupannya. Ideologi yang dimaksudkan adalah prinsip dasar seseorang yang dalam bahasa makassar siri’ na pacce yang merupakan gambaran kecil akan nilai-nilai budaya yang berakar pada sistem, tekad, dan prinsip yang esensial. Nilai-nilai budaya siri’ na pacce hakikatnya merupakan potensi dan kekayaan pola pikir yang dimiliki suatu kelompok masayarakat.[7]
Siri’ na pacce merupakan konsep kesadaran hukum dan falsafah masyarakat Makassar adalah sesuatu yang dianggap sakral . Siri’ na Pacce ( Bahasa Makassar ) adalah dua kata yang tidak dapat dipisahkan dari karakter orang Makassar dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Siri’ adalah rasa malu yang terurai dalam dimensi-dimensi harkat dan martabat manusia, rasa dendam ( dalam hal-hal yang berkaitan dengan kerangka pemulihan harga diri yang dipermalukan ). Sehingga Siri’ dianggap sesuatu yang tabu bagi masyarakat Makassar dalam interaksi dengan orang lain. Sedangkan pacce merupakan konsep yang membuat manusia ini mampu menjaga solidaritas kelompok. Pacce merupakan sifat belas kasih dan perasaan menanggung beban dan penderitaan orang lain, meskipun berlainan suku dan ras. Falsafah atau ideologi Siri’ na pacce membuat keterikatan dan kesetiakawanan di antara masyarakat Makassar kabupaten jeneponto menjadi kuat, baik sesama suku maupun dengan suku yang lain. Konsep kesetiakawanan, solidaritas, merasa iba hati, melihat sesama warga yang mengalami penderitaan atau tekanan batin dikarenakan perbuatan orang lain dan musibah. Konsep panngali'/perasaan hormat adalah penanaman sikap hormat dan saling menghargai sesama, juga termasuk kepada sesuatu yang dianggap bersih atau suci. Semua konsep ini merupakan sikap moral yang menjaga stabilitas dan berdimensi harmonis agar tatanan sosial atau adat istiadat berjalan secara dinamis.[8] Dalam kajian ini penulis berusaha melihat bagaimana kelong-kelong palloserang membentuk ideologi (siri’ na pace) melalui interaksi orang tua terhadap anaknya yang dianggap paling berpengaruh dalam kehidupan. Secara umum, kajian ini meyakini bahwa persepsi siri’ na pacce terpusat pada praktek-praktek teori social dengan asumsi bahwa anak-anak dapat memperoleh pengetahuan terhadap siri’ na pace melalui interkasi social dalam lingkungannya dengan menganalisa discourse (wacana) dan menceritakan kembali interkasi anak terhadap orang tua melalui  kelong palloserang sebagai ilustrasi untuk meilihat bagaimana pola piker anak dalam berinteraksi dimasa depan. Secara spesifik kajian ini akan melihat bagaimana ideologi siri’ napacce dalam wacana kelong-kelong palloserang dengan cara menempatkan anak sebagai subject, kelong-kelong pallo serang sebagai wacana dan ibu sebagai pelaku atau penyayi. Sebagai langkah-langkah untuk melihat latar terbentuknya pola pikiranak dalam berinteraksi dimasa depan.
Rumusan Masalah
Bagaimana aspek musikal kelong-kelong paloserang?
Bagaimana kelong-kelong palloserang menjadi media interaksi anatara ibu dan anak?

II.                Pembahasan
Kelong-kelong palloserang merupaka rutinitas dinyanyikan ketika menidurkan anak-anak dengan tujuan supaya anak-anak cepat tertidur. kelong-kelong palloserang tersebut sampai saat ini masih sering ditemukan diberbagai daerah khusunya didaerah-daerah terpencil. Menurut Bacce Dg. Te'ne warga disalah satu daerah di kabupaten jeneponto desa barana. Kelong-kelong tersebut dikatehui sejak kecil karena sering mendengarkan ketika dia ditidurkan oleh orang tuanya, setiap beliau ditidurkan selalu dinyanyikan akhirnya beliau keseringan mendengar dan sampai saat ini beliau masih melakukan kebiasaan-kebiasan tersebut dengan hal yang sama yang dilakukan oleh orang tuanya. Sampai saat ini belum ada data yang pasti bahkan penulis sama sekali tidak pernah menemukan tulisan serta pembahasan mengenai kelong-kelong tersebut. Penulis tertarik saat mendengarkan kelong-kelong dinyanyikan selain dari syair yang khas juga dianggap sangat filosofis dan mempunyai makna tersendiri. Orientasi lirik lagu yang terdapat dalam kelong-kelong palloserang ada 3 yaitu doa atau harapan, wujud kasih sayang, dan pengajaran. dalam kalimat lagu tersebut terdapat 8/8 ejaan kata dalam satu kalimat.[9]
Kelong-kelong palloserang temasuk dalam golongan solo vokal karena lagu dinyanyikan oleh satu orang tanpa iringan isntrument dan kalimat melodi berulang-ulang karena kalimat melodi hanya ada satu bentuk, jika dianalisis mengunakan tangga nada diatonis maka nada-nada yang terdapat dalam kalimat melodi adalah   C# D# E F nada tersebut yang diulang dengan ritme sesuai dengan bentuk lirik lagu tersebut.
Syair lagu kelong-kelong palloserang tidak terbatas bahkan sampai berjam-jam tidak akan ada habisnya kecuali anak-anak sudah tertidur. Lagu-lagu dinyanyikan terus-menerus sampai anak-anak tetidur, sembari melambaikan ayunan si anak lagu-lagupun tetap dinyanyikan.Ada kalanya ketika anak-anak ditidurkan tanpa ayunan namun ditidurkan dikasur. Pelaksanaan hampir sama yaitu menyanyikan, namun bedanya ketika ditidurkan diatas kasur seorang ibu ikut berbaring sambil memeluk dan menyanyikan lagu-lagu tersebut.
 III. Kelong-Kelong Palloserang Sebagai Wacana dan Media Interaksi Antara Anak dan Orang Tua
1.      Aspek musikal kelong-kelong palloserang
Kelong-kelong Palloserang menggunakan aspek tangga nada musik “Barat” menggunakan tangga nada diatonis (musik barat), maka kelong palloserang dapat dimainkan dengan nada dasar A (tiga kres). Sebenarnya penyanyi sama sekali tidak menyadari kalau nada yang mereka mainkan dalam lagu tersebut adalah nada diatonis, penyanyi hanya menyanyikan tergantung dengan mood, hanya saja penulis menggunakan analisis tangga nada diatonis sebagai suatu panduaan yang dapat memastikan skala-skala nada yang digunakan dalam kelong-kelong palloserang. Dalam hal ini penulis mencoba menganalisis skala nada dengan menggunakan  auto cromatik hasil yang ditemukan tidak murni nada diatonis, dalam frase nada hanya terdapat  lima nada diatanranya C#-D#-E-F-F#. Lima nada tersebut yang diulang-ulang dengan menggunakan lirik yang beragam.
            Gaya musikal kelong-kelong palloserang terdapat istilah tokko, dan luk, dalam bahasa makassar tokko, adalah cengkok, dimana dalam perjalanan melodi terdapat pengembangan nada yang berbeda-beda tergantung dengan karakter lagu yang akan dibawakan, dalam hal ini karakter lagu kelong-kelong palloserang menggunakan cengkok dengan gaya lokal yaitu gaya vokal sulawesi. Dimana menggunakan nada renda kemudian up tempo. Luk, yang dimaksudkan adalah nada-nada yang relatif dan bergerak cepat dan pendek.[10] Dari segi gaya penyajian kelong-kelong masuk dalam golongan solo vokal karena dinyanyikan dengan satu orang tanpa ada iringan instrument.
2.      Arti dan makna syair lagu kelong-Kelong palloserang
Eyaeya le tinro mako naung anak siluserang sumanga’nu anak.
Nu pada lompo na nupada cini’ te’ne.
Sumanga’numabellayya battungaseng makomae
eranggassinnu pakalepu tallasanu rikong.
Artinya:
Eya eya le tidurlah anak bersama semangatmu, besarlah anak seiring dengan semangatmu. Semangatmu yang jauh di sana datanglah kemari, membawa kesehatan dan bersatu dalam hidupmu anak.
Eya eya le” merupakan kata tambahan yang tidak mengandung makna sama sekali namun hanya sebagai pendukung atau dapat disebut sebagai hiasan kata dalam lagu. “semangat’’ diartikan sebagai jiwa, semangat, spirit. Kata semangat tersebut mengandung arti yang sangat luas namun dalam lagu tersebut lebih spesifik diartikan sebagai spirit jiwa. Dalam syair di atas diartikan memanggil kembali spirit jiwa seorang anak, dengan harapan dapat besar bersama seiring dengan spirit jiwanya, karena menurut keyakinan masyarak tersebut hidup tan spirit jiwa itu tidak ada artinya. Sesuai kepercayaan masyarakat tersebut spirit jiwa itu yang mengatur kelangsungan aktifitas serta perilaku-perilaku manusia.
Eyaeya le manna tinggi kalukua manna parang layang-layang kuambi tonji punnasiri’ latappela.
Artinya:
Walau tinggi pohon kelapi barat tingginya laying anak aku panjat juga jika harga diri akan hilang. Hal tersebut merupakan prinsip dasar bagi keseluruhan masyarakat di makassar. ''Siri/harga diri'' merupakan hal yang paling terpenting, harga diri merupakan harta besar dalam kehidupan karena harga diri sangat kuat kaitannya dengan moral manusia.Siri’ yang terjadi bilamana seseorang di hina atau diperlakukan diluar batas kemanusiaan. Maka ia (atau keluarganya bila ia sendiri tidak mampu) harus menegakkan Siri’nya untuk mengembalikan Dignity yang telah dirampas sebelumnya. Jika tidak mereka akan disebut mate siri (mati harkat dan martabatnya sebagai manusia). Seperti yang dikatakan Shelly Errington“ Untuk orang bugis makassar, tidak ada tujuan atau alasan hidup yang lebih tinggi daripada menjaga Siri’nya.[11] Kalau mereka tersinggung atau di permalukan (Nipakasiri’) mereka lebih senang mati dengan perkelahian untuk memulihkan Siri’nya daripada hidup tanpa Siri’.
            Meninggal karena Siri’ disebut Mate nigollai, mate nisantangngi artinya mati diberi gula dan santan atau mati secara manis dan gurih atau mati untuk sesuatu yang berguna. Siri’ yaitu pandangan hidup yang bermaksud untuk mempertahankan, meningkatkan atau mencapai suatu prestasi yang dilakukan dengan sekuat tenaga dan segala jerih payah demi Siri’ itu sendiri, demi Siri’ keluarga dan kelompok.Sehingga apapun dan bahkan bagaimana pun juga akan dilakukan demi mempertahankan harga dirinya. Harga diri sangat kuat peranannya terhadap eksistensi manusia dalam kehidupan sosialnya, harga diri sebagai prinsip dasar dalam kehidupan masyarakat yang sangat penting karena harga dirilah yang membedakan manusia dengan binatang.
            Eya eya le manna mabella bori’nu anak ka bori’nu ji ma bella pangranuanu anak karinakke ngaseng inji rikong
Artinya:
Walau jauh tempat tinggalmu tetapi harapan dan kasih sayang masih tetap bersamaku. Syair lagu tersebut menggambarkan tentang bagaimana kasih sayang seorang anak, terhadap orang atau sebaliknya. Kasih sayang dalam bahasa makassar pacce secara harfiah bermakna pedih dan perih yang dirasakan meresap dalam kalbu seseorang karena melihat  penderitaan orang lain. Pacce, bila dikaitkan dengan kehidupan dalam bersosial maka dapat diartikan sebagai alat  penggalang persatuan, solidaritas, kebersamaan, rasa kemanusiaan dan memberi motivasi untuk berusaha meskipun dalam keadaan yang sangat terdesak. Semoga kau bahagia biar orang yang berada atau dapat melihat kebahagianmu. Orang berada meski hanyut masih ada sandarannya kita yang miskin jika hanyut tetaplah hanyut.
Eya eyale e tau sunggua manna mannyu’ niaja na ta’rampei tau kamasea anak amnyuna tulusu’na anak.
Artinya:
“Orang berada” diartikan sebagai orang yang tingkat strata sosialnya lebih tinggi, maka dalam syair tersebut lebih kepada penentuan eksistensi masyarakat dalam artian masyarakat miskin baru dapat dihargai ketika hidupnya lebih bahagia. Bahagia yang di maksudkan di atas adalah hidup yang dapat saling menghargai terhadap sesamanya. Orang yang berada ketika “hanyut” ataupun yang masalah masih banyak yang bias menolongnya tetapi kita yang miskin jika hanyut maka larutlah ke dalam masalah tersebut. Hal tersebut diartikan sebagai interaksi sosial yang harmoni karena dalam kehidupan masyarakat tersebut membutuhkan interaksi dan saling tolong menolong. Jika diartikan lebih dalam lagi maka lagu tersebut memberikan pesan bahwa hiduplah yang bahagia dengan saling menghargai dan saling tolong menolong terhadap sesama. Kita sebagai orang miskin sangat membutuhkan orang lain karena hanya orang lain yang bias membantu kita jika dalam masalah. Secara keseluruhan makna yang terdapat dalam syair tersebut dapat diartikan sebagai ungkapan seorang ibu untuk anaknya agar dapat hidup bahagia dan hidup berdampingan selaras dengan masyarakat-masyarakat sekitarnya.

            Pengalaman anak mengenal music pertama-tama melalui bahasa syair atau lirik, kemudian melalui lingkungannya. Lingkungan yang dimaksudkan adalah dimana anak berinteraksi, sementara anak-anak paling banyak berinteraksi kepada orang tua (ibu sebagai pengasuh) Karena anak-anak lahir ibarat kertas kosong dan yang paling banyak menulis serta mengisi kertas kosong tersebut adalah orang tua. Dimana kelong-kelong palloserang ini hadir disetiap anak akan menutup mata karena kelong-kelong palloserang sudah menjadi kebiasaan dan menjadi salah satu cara yang selalu hadir saat menidurkan anak-an
3.      Kelong-kelong Palloserang Menjadi Media Interaksi
Lingkungan merupakan wadah anak untuk mengenal bunyi serta suara yang dapat didengar atas produksi vibrasi atau getaran gelombang suara. Dari sumber suara kemudian anak mulai belajar menyanyi dan hampir sama prosesnya pada waktu anak mulai belajar berbicara yaitu dengan cara meniru. Saat peniruan anak tersebut menjadi proses pembentukan kepribadian, anak-anak dapat berbicara menggunakan bahasa daerah diakibatkan oleh orang-orang yang ada disekitarnya. Sama halnya dengan anak-anak yang mendengarkan syair-syair dan mencoba menirukannya dan begitupun juga dengan perilaku. Jika ia mendengarkan lagu yang berkesan gembira, gagah, penuh ekspresi serta gaya, ia akan meniru model atau contoh dari yang mengajarinya.[12]
     Bentuk melodi atau bentuk lagu yang terdapat dalam kelong-kelong palosserang hanya ada satu bentuk, satu bentuk tersebut dimainkan dengan menggunakan syair yang tidak terbatas jumlahnya sampai anak dapat tertidur.
Dapat kita lihat bahwa kalimat melodi atau kalimat lagu yang berulang-ulang secara teratur dalam tempo yang sama membawa perasaan hanyut sehinnga sampai mereka tertidur. Meski seorang anak yang berusia 1-2 tahun kebawah belum bisa memaknai lagu tersebut namun adanya kalimat lagu yang teratur dan berulang-ulang memberikan ketenangan. dapat dilihat dalam keseharian kita bahwa bayi akan menyusui lebih tenang dan lebih mudah berhenti menangis di dada sang ibu (pelukan ibu) suatu kemungkinan besar karena merasakan keteratuan detak jantung. Seperti yang dikatakan oleh wigram, bila element musik stabil dan dapat diprediksi maka subjec cenderung merasa rileks. Selain itu juga dikatakan bahwa element relaksasi yang potensial jika adanya stabilitas yang berangsur-angsur pada irama, tempo, timbre, tekstur yang konsisten, garis melodi yang terprediksi serta pengulangan-pengulangan materi ( bentuk melodi atau bentuk lagu).[13] Selain itu juga dikatakan musik yang berirama melow dan melankolis merupakan jenis musik yang menyayat perasaan. Musik semacam itu bisa menurunkan asupan sejumlah komposisi kimia dalam otak.[14] Dengan demikian di atas dapat kita mengetahui bahwa musik mempunyai stimulasi terhadap manusia agar dapat menyenangkan perasaan pendengar, misalnya seorang anak lebih cepat tertidur ketika mendengarkan lagu-lagu dibandingkan tidak mendengar sama sekali. Meski penjelasan tersebut belum sampai ketitik bagaimana bagian tubuh merespon bunyi namun dapat kita melihat dari pengalaman empirik khusnya bagi para pendengar musik. Kita semua mengetahui bahwa musik dapat membuat kita senang, maka dari itulah kita mendengarkan musik, dan mungkin bisa saja musik mempunyai kebutuhan lain dalam tubuh misalnya musik dijadikan sebagai pengobatan, musik sebagai media terapi, serta musik sebagai media untuk simedi. Hal ini menunjukan bahwa adanya peranan musik dalam kehidupan manusia sehingga musik itu masih ditemukan dilingkungan hidup manusia. Nurhayati dari Malaysia mengemukakan hasil penelitian dalam sebuah seminar konseling dan psikoterapi Islam, beliau mengatakan bahwa setiap suara atau sumber bunyi memiliki frekuensi dan panjang gelombang tertentu  memiliki efek yang sangat baik untuk tubuh, seperti; memberikan efek menenangkan, meningkatkan kreativitas, meningkatkan kekebalan tubuh, meningkatkan kemampuan konsentrasi, menyembuhkan berbagai penyakit, menciptakan suasana damai dan meredakan ketegangan saraf otak, meredakan kegelisahan, mengatasi rasa takut, memperkuat kepribadian, meningkatkan kemampuan berbahasa, dan lain sebagainya.[15] Meski demikian diatas bukan berarti hal yang mutlak, peranan musik dalam pembentukan karakter anak sangatlah kurang karena musik sangat abstrak untuk bisa di serap secara ideal. Yang paling berperan penting dalam pembentukan ideologi atau prinsip anak itu lebih kepada lirik lagu karena kalimat lebih mudah dimaknai dibandingkan dengan nada-nada itu sendiri, penulis hanya mewujudkan bahwa elemen-elemen dalam musikal itu terdapat kolerasi terhadap konteks dan manusianya. sehingga kita dapat melihat bahwa bentuk melodi dalam kelong-kelong palloserang dalam konteks menidurkan anak juga mempunyai peranan tertentu meskipun sangat minimalis.
            Bernyanyi merupakan suatu kegiatan yang dapat menyenangkan bagi anak dan pengalaman bernyanyi ini memberikan kepuasan tersendiri kepada anak. Bernyanyi tidak jauh beda dengan membacakan cerpen kepada anak sehingga anak lebih cepat tertidur. hal demikian merupakan hal yang menjadi fenomena umum yang terdapat diberbagai daerah demikian juga terjadi di makassar sulawesi selatan.
            Kelong-kelong palloserang dinyanyikan pada dasarnya yaitu menidurkan anak-anak namun disisi lain juga merupakan kegiatan yang menunjang perkembangan anak khususnya dalam hal perkembangan motorik, perkembangan bahasa dan berfikir, serta perkembangan social. Dalam menyanyi anak dapat mengembangkan kemampuan motoriknya melalui perasaan irama lagu yang dinyanyikannya. Dengan menyanyi anak dapat mengembangkan kemampuan bahasa dan berfikirnya yakni melalui syair-syair lagu yang dilafalkannya dan dengan menyanyi pula anak dapat mengembangkan kehidupan sosialnya yakni melalui tema atau lirik-lirik lagu yang menggambarkan lingkungan tempat tinggalnya atau alam sekitarnya. Oleh sebab itu, kegiatan bernyanyi merupakan kegiatan yang penting bagi anak. Masa kanak-kanak dibagi ke dalam dua tahap yaitu masa kanak-kanak awal dan masa kanak-kanak akhir. Pada usia ini ketergantungan anak semakin berkurang sedangkan sikap mandiri semakin bertambah secara perlahan-lahan.[16]
            Faktor-faktor sosial menjadi kajian yang sangat rumit dimana adanya  bermacam-macam aspek yang menjadi latar belakang yang mendorong manusia berinteraksi. Tidak lain bahwa lingkungan yang menjadi faktor terbentuknya kesadaran dan kesadaran sendiri yang membentuk pergerakan untuk merubah sosial. Dengan munculnya pemikiran para ahli sosial mengenai interaksi manusia sangat memberikan kontribusi dimana mewujudkan pemikirannya melalui realita-realita yang mereka temui. Faktor yang membentuk tindakan atau pola pikir atau selera seseorang adaalah faktor fenomena sosial, fenomena sosial yang menjadi pembentukan yang paling natural hingga pada pembentukan ideologi itu sendiri.
            Ideologi yang di bicarakan di sini adalah corak kehidupan yang ada pada diri seseorang yang memberi ciri khas bagi pemiliknya dan membedakannya dengan orang lain. Maka, kita bisa melihat penampakan kepribadian yang ada pada diri manusia itu dari luar, berupa perbuatan-perbuatan fisik maupun sikap-sikap mental yang ditampakkannya secara konstan dalam kehidupan kesehariannya. Kita bisa mengenali mana orang yang baik dan mana orang yang jahat dari tingkah laku yang dijalankannya dan sikap mental yang ditampakkannya. Kita bisa mempersepsikan mana orang yang terhormat dan mana orang yang hina dari berbagai sikap dan omongan yang ditampilkannya secara tetap.
            Penanaman ideologi  yang mungkin tidak kita sadari selama ini menjadi pengaruh besar dalam kreatifitas pola berfikir individu. Dapat dilihat dari mental manusia serkarang ini dimana manusia sudah menjadi suatu produk yang selalu diikat dengan aturan atau digerakkan dengan ideologi-ideologi tertentu demi kepentingan tertentu. Banyak faktor yang membentuk ideologi manusia dalam interaksi sosialnya. Yang pertama dapat kita lihat interaksi secara langsung atau mengikuti sistem-sistem yang baku. Secara tidak sadar hal demikian juga menjadi faktor pengaruh dalam pola berfikir ataun kreatifitas manusia, dengan adanya ajaran moral, agama, adat-istiadat menjadi panutan besar  untuk  seseorang berinteraksi. Fenomena demikian diatas menjadi suatu landasan berfikir, dimana penulis lebih spesifik membahas dengan ruang lingkup yang kecil, yaitu ruang keluarga. Keluarga yang menjadi perang penting dalam pembentukan ideologi, dimana ajaran-ajaran selalu dilontarkan pada anak disetiap harinya atau disetiap anak melakukan hal yang salah.
            Masa remaja, pendidikan dan lingkungan dimana anak bergaul yang menjadi peran penting dalam pembentukan ideologi individu. Seperti yang telah dijelaska sebelumnya bahwa pengaruh kepribadian lebih kepada hal yang tidak disadari dimana dimana tindakan yang yang menjadi rutinitas secara tidak sengaja akan mengakar dalam tubuh kita. Secara tidak sadar tindakan seorang anak dibangun dimana mereka berinteraksi. Interaksi paling dominan adalah lingkup keluarga salah satunya adalah kelong-kelong palloserang dimana dalam syairnya selalu mengandung nilai-nilai budaya yang secara tidak sadar akan tertanam dalam diri setiap individu. Sesuai yang dijelaskan sebelumnya bahwa kelong-kelong palloserang menjadi suatu perilaku rutinitas bagi masyarakat makassar dimana disetiap menidurkan anak-anak selalu dinyanyikan lagu-lagu yang berisikan pesan-pesan dan harapan, dan mengenai harapan juga merupakan suatu tindakan yang pada dasarnya membawa kita kepada titik penyadaran.
Proses berlangsungnya kelong-kelong palloserang menjadi media interaksi antara anak dan orang tua memang tidak secara langsung membentuk pola pikir anak tetapi perlu disadari bahwa tindakan-tindakan itu semua berasal dari tiruan, setelah umur dewasa dan mempunyai interaksi yang lebih luas diluar lingkungan keluarga akhirnya perubahan ideologi berlangsung dimana manusia sudah dapat membedakan mana yang harus dilakukan dan mana yang dilarang. Dengan adanya pola pikir seperti ini secara tidak sadar yang memperlihatkan kita tentang baik dan buruk itu dibangun sebelum kita berinteraksi lebih luas. Interaksi lebih luas itu hanya menjadi pertimbangan tentang pengetahuan yang kita dapat sebelumnya sebelumnya dan juga dapat menjadi perkembangan. Salah satu contoh kecil bahwa interaksi sosial sangat penting buat keseluruman manusia karena adanya prinsip bahwa gotong royong lebih dapat mempermudah suatu pekerjaan. Dan lebih sederhana lagi baahwa lahirnya suatu komunitas atau kelompok masyarakat kita dapat membangun kekuatan massa yang lebih kuat. Hadirnya kelong-kelong palloserang dimasyarakat sebagai lagu yang dinyanyikan untuk menidurkan anak-anak itu menjadi pengisi ruang yang sangat luas, dimana anak-anak belum begitu banyak diajarkan tentang prinsip-prinsip atau cara bergaul dengan baik, hal demikian karena orang tua hanya melihat dan mendidik anak dan jika melakukan hal yang salah maka teguran baru dilontarkan. Hal demikian terjadi sangat relatif yang berbeda dengan rutinitas kelong-kelong palloserang dimana setia tidur lagu itu dinyanyikan. Pada akhirnya hal demikian menjadi sangat berkesan buat anak-anak, dan dengan munculnya kesan ini maka timbullah akan rasa rindu dan sifat hormat kepada orang tua. Contoh kecil ketika kita melihat orang tua kita, kadang merasa sedih ketika orang tua bekerja keras sementara kita masih enak untuk bermain, dimana munculmnya rasa sedih ini kalau tidak pada bagaimana orang tua mendidik kita dan bagaimana sisksanya orang tua membesarkan kita, dan pada akhirnya semua  rasa kasih dan rasa hormat ini muncul dan tertanam dalam diri setiap individu, Contoh lain yang paling sering terjadi adalah anak yang manja yang merasa tidak bisa berpisah dengan orang tuanya, hal demikian karena orang tuanya selalu memberikan rasa kasih sayang yang lebih kepada anak, dan pada akhirnya rasa kasih sayang ini tertanam dalam diri anak hingga pada akhirnya anak tidak bisa lepas tanpa pantauan orang tua.

 IV.             Kesimpulan
Kajian pada faktor-faktor sosial dalam memahami tingkah-laku individu dalam konteks sosial dengan melibatkan kelong-kelong palloserang dan pada akhirnya membawa kita pada kajian tentang musik dan bahasa. Lalu, lebih jauh lagi kajian tentang pengaruh bahasa yang terkandung dalam musik terhadap kesadaran dan perilaku manusia membawa kita pada kajian tentang ideologi karena kajian ideologi menyediakan penjelasan bagaimana pengaruh sosial terutama melalui bahasa dan musik yang dapat masuk dan mengarahkan perilaku individu. Hal demikian menekankan pentingnya memahami pengaruh ideologi dalam pembentukan opini individu dalam suatu masyarakat tertentu Dengan beragamnya benturan-benturan dalam perkembangan jaman yang dapat melahirkan dan membentuk idiologi individu kepada hal yang instan. 
Hadirnya kajian kelong-kelong paloserang ini semoga dapat menjadi suatu pertimbangan besar buat masyarakat untuk memilih lebih tepat media yang dapat dijadikan media dalam membentuk ideologi anak. Semoga dengan hadirnya makalah yang membahas tentang kelong-kelong palloserang dimasyarakat makassar kabupaten jeneponto desa barana ini dapat menjadi pemahaman yang hingga pada akhirnya dapat menfilter hal-hal yang pantas untuk dibenturkan kepada anak-anak. lancarnya benturan media kepada masyarakat sehingga beberapa kebiasaan-kebiasaan masyarakat itu lebih diperhatikan lagi, hal yang paling penting dalam pembentukan ideologi adalah hal yang berlandaskan dengan adat-istiadat, nilai moral dan agama, sangat disayangkan kebiasan-kebiasan ini digantikan dengan media sosial yang tidak terpungkiri yang dapat mebentuk ideologi individu yang instan.
Kelong-Kelong Palloserang dapat disimpulkan sebagai salah satu dari begitu banyak perilaku dalam kehidupan masyarakat jeneponto yang berperan penting sebagai penyaluran tentang falsafah hidup atau ideologi. Jika dilihat dari segi proses keberlangsungan kelong-kelong palloserang maka dapat disimpulkan bahwa lagu yang dekat dengan masyarakat secara tidak sadar mengambil bagian dalam pembentukan ideologi dan menjadi falsafah hidup bagi masyarakat. 


KEPUSTAKAAN
Abdullah, Irwan. 2007. Kontruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Adrianto, Elvinaro. 2004. Kontruksi Ideologi dan Politik Massa. Yogyakarta:  
Lkis Pelangi Aksara
Depdikbud. 1996. Musik dan Anak-anak. Jakarta: Depdikbud.
Johan. 2010. Respons Emosi Musikal. Bandung: Lubuk Agung.
Hamunah. 1987. Musik Keroncong Dalam Sejarah Gaya dan Perkembangan.
Yogyakarta: Pusat Musik Liturgi.
Meriam, Alan P. 1964. The Anthropolgy of Musik. Chicago:
Northwestern University Press.
Watters, Lorraine e, Etc. 1967. The Magic of Music. Hollis Center. ME. U.S.A.
Soedarsono, R.M. 2010. Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi. Yogyakarta:
Gajah Mada University Press.




[1] johan, Respons Emosi Musikal,  (Bandung: Lubuk agung 2000), 1.
[2] Alan P. Merriam, The Anthropology of Musik, (Northwestern: Univrsity Press, 1964), 209-227.
[3] Wawancara Bacce Dg Te’ne 20 april 2015, diizinkan untuk dikutip
[4]https://zizo07.wordpress.com/2010/04/17/pola-pembentukan-kepribadian
[5]http://www.pengertianpakar.com/2014/10/pengertian-ideologi-menurut-para-pakar.html
[6] http://archive.org/stream/TerryEagleton-IdeologyAnIntroduction/TerryEagleton-Ideology-AnIntroduction_djvu.txt
[7] http://expedisipassompa.blogspot.com/2010/12/makalah-antropologi-agama-siri-na-pacce.html.
[8]http://radinalaidin.blogspot.com/2012/03/siri-na-pacce-sebagai-prinsip-kehidupan.html
[9]Wawancara Amir Razak di Jurusan Etnomusikologi ISI yogyakarta.
[10]Hamunah, Musik Keroncong Dalam Sejarah, Gaya dan Perkembangan, (Yogyakarta: Pusat Musik Liturgi,1987), 1-7.
[11]http://expedisipassompa.blogspot.com/2010/12/makalah-antropologi-agama-siri-na-pacce.html

[12]Lorraine e. Watters, Etc.The Magic of Music, (Hollis Center, ME, U.S.A,1967), 18.
[13] Johan, Terapi Musik Teori dan Aplikasi, (Yogyakarta: Galang Press, 2006), 46.
[14]https://siipe2r007.wordpress.com/2012/06/11/karya-ilmiah-pengaruh-musik-terhadap-kesehatan-jiwa-fungsi-dan-kerja-otak-manusia/

[15]https://www.facebook.com/Pusatairkangen/posts/455264671248221
[16]Depdikbud. Musik dan Anak-anak. (Jakarta: Depdikbud. 1996), 164.