Sabtu, 04 Juli 2015

PERTUNJUKAN CANDOLENG-DOLENG SEBAGAI WADAH MENCARI DUA KEPENTINGAN YANG BERBEDA ANTARA PEMILIK ELEKTONE DAN BIDUAN

PERTUNJUKAN CANDOLENG-DOLENG SEBAGAI WADAH MENCARI DUA KEPENTINGAN YANG BERBEDA ANTARA
PEMILIK ELEKTONE DAN BIDUAN
Oleh:Dita
Fenomena sosial semakin hari semakin rumit untuk dipahami, semakin hari semakin banyak properti yang muncul yang belum pasti diketahui arah dan asalnya.  dengan adanya properti-properti dalam kehidupan bermasyarakat maka kehidupan ini menjadi beragam serta manusia mempunyai pola hidup yang berbeda-beda tegantung pada setiap individu karena setiap manusia mempunyai cara tersendiri untuk mempertahankan hidupnya hingga pada akhirnya cara yang mereka lakukan tergantung pada pengetahuan yang dimiliki setiap orang.
Dengan keberlangsungan hidup setiap kelompok masyarakat ataupun setiap individu tentunya tidak terlepas pada interaksi budaya atau interaksi secara per_orangan. Dalam interaksi ini, hegemoni nampaknya menjadi salah satu hal yang paling relevan untuk mengaplikasikan ideologi, dalam hal ini penulis mencoba melihat  bagaimana ideologi bekerja dalam interasaksi masyarakat karena Peranan ideologi  dianggap mempunyai pengaruh besar dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam hal ini penulis akan membahas musik dangdut sebagai Salah satu properti masyarakat yang sering ditemukan sebagai hiburan yang merakyat atau terdapat dimana-mana. Dangdut adalah salah satu aliran musik yang tidak asing lagi di masyarakat, dangdut kita ketahui sebagai musik yang merakyat sejak berdirinya Negara indonesia. dangdut adalah salah satu gengre musik yang berkembang di Indonesia, gengre musik dangdut berakar dari musik melayu sekitar tahun 1940-an.
seiring dengan perkembangan zaman musik dangdut terpengaruh dengan unsur-unsur musik india dari segi permainan gendang sama seperti tabla juga pada cengkok dan harmonisasinya. Sejak tahun 1970-an musik dangdut boleh dikatakan telah matang dengan bentuknya yang menghibur dan dikelompokkan sebagai musik populer di Indonesia. Musik dangdut merupakan tiruan dari suara permainan tabla yang sering di sebut kendang yang khas dan didominasi dengan bunyi Dang dan Ndut sehingga penamaan tersebut dikenali hingga populer dimasyarakat.
Dari perkembangan musik dangdut sampai pula kepelosok-pelosok daerah. Musik dangdut yang terdapat disetiap daerah lebih banyak mengalami perkembangan baik dari audio maupun visiualnya, perkembangan begitu cepat berlangsung berdasar dari ide-ide kreatif pelaku untuk meningkatkan minat pasar. Artinya perkembangan musik dangdut ini adalah salah satu cara untuk mencukupi kebutuhan dari segi ekonimi, saat ini dapat kita lihat beberapa perkembangan seperti dalam penyajian dangdut dari keyboard tunggal atau di sebut elektone yang menggunakan kaset ataupun flash disk sebagai media untuk menyimpan file musik sehingga banyak perbendaharaan lagu yang dimiliki oleh pemain.
 penyajian musik dangdut disaat ini rata-rata menggunakan minus one kemudian ditambah dengan variasi melodi dengan bunyi instrument yang beragam sesuai kebutuhan lagunya. Hal Ini salah satu cara untuk memudahkan pertunjukan tersebut, karena dari segi personil elektone hanya membutuhkan satu orang pemain, berbeda dengan orkes dangdut yang lengkap instrumentnya. Adapun perkembangan lainnya dapat kita lihat dari segi penyanyi atau biduannya yang kebanyakan adalah perempuan yang menggunakan pakaian lebih terbuka atau lebih sexy, dengan tujuan menarik minat laki-laki sebagai penontonnya.
Bila ditinjau dari aspek sosial pada dasarnya laki-laki lebih mendominasi kaum wanita, dimana wanita hanya sebagai penghibur bagi laki-laki, tanpa disadari dalam pertujukan musik dangdut terdapat degradasi moral terhadap wanita untuk mencapai kebutuhan ekonomi.
 Di sini penulis berpendapat bahwa didalam fenomena musik dangdut ada ketidak stabilan, sistem mengenai eksistensi gender yang bersifat politik terhadap kedudukan wanita yang dapat berdampak kemasyarakat umum.Didalam penyajian karya seni adalah representasi, karena memang dalam proses pengembangan atau proses penciptaan seni bersinggungan dengan kenyataan objektif atau kenyataan dalam dirinya, Perspektif penulis dalam perkembangan musik dangdut ini lebih berfikir representasi tentang sensulitas untuk menarik minat penikmat dan merangsang imajinasi dengan cara mengesploitasi wanita atau menggunakan penyanyi wanita yang berpakaian lebih terbuka.
Hal yang menarik dengan hadirinya musik dangdut dimasyarakat adalah bagaimana mengetahui latar belakang yang mendorong lestarinya musik dangdut yang sifatnya erotis yang diatur dengan sistem atau ideologi tertentu. Ideologi yang dimaksudkan adalah sistem pemilik modal yang mempunyai kuasa penuh dalam mengatur berlangsungnya pertunjukan dan memilih penyanyi dengan upaya dapat menarik minat masyarakat demi kebutuhan ekonominya. Musik dangdut yang dimaksudkan adalah pertunjukan candoleng-doleng, candoleng-doleng merupakan pertunjukan yang paling sering ditemukan disaat pesta ataupun kampaye partai politik. Pertunjukan candoleng-doleng ini sangat digemari oleh para laki-laki dimana goyangan penyanyi lebih erotis dan bahkan sampai telanjang. Hal ini masih detemukan diberbagai daerah khususnya disulawesi selatan. Pertunujukan candoleng-doleng pada dasarnya adalah pertunjukan yang tersembunyi dalam artian pertunjukan yang terdapat didaerah-daerah terpencil tetapi seiring perkembangan jaman maka candoleng-doleng menjadi populer diseluruh masyarakat sulawesi selatan yang pada umumnya digunakan saat menghibur tamu yang datang pada saat pesta perkawinan.
Musik dangdut menjadi budaya populer dimana musik dangdut yang sifatnya erotis terdapat dimana-mana dalam hal ini penulis mencoba melihat dari dua hal yaitu dari segi kepentingan kelas dominan dan kepentingan kelas kelas bawah dengan cara menceritakan kedudukan masing-masing dalam sebuah ikatan kerja yaitu pertunjukan musik dangdut. Marx mengatakan bahwa  kedua kepentingan yang berbeda yang menyebabkan perbedaan sikap terhadap perubahan sosial. dimana kelas atas selalu mempertahankan ideologi dan kelas bawah yang menjadi bahan eksploitasi demi mendapatkan kepentingan bersama dalam satu wadah kerja. Penulis akan menceritakan dua kepentingan yang berda dalam penerapan suatu wadah kerja, yang dimaksudkan dengan kelas atas adalah pemilik elektone dan kelas bawah adalah wanita sebagai biduan dan wadah kerja adalah pertunjukan itu sendiri.
Rumusan Masalah
Bagaiaman peranan pemilik modal dalam melangsungkan pertunjukan dangdut sebagai mata pencahariannya?
Bagaiaman upaya-upaya biduan untuk mencapai kepentingannya dalam pementasan musik dangdut?

Kepentingan Pemilik Modal Dalam Mengejar Pasar
            Pada dasarnya musik orgen tunggal hanya menghibur tamu-tamu baik diacara nikahan ataupun acara lainnya. Orgen tunggal pada awalnya hanya membawakan lagu-lagu dangdut yang selow dan penyanyipun masih berpakain rapi selayaknya wanita indonesia. Namun berkembangnya zaman semakin banyak yang mempunyai elektone atau orgen tunggal dan pada akhirnya persaingan antara kelopok pun hadir dimasyarakat.
Semakin banyaknya kelompok orgen tunggal ini yang menjadi salah satu penyebab munculnya persaingan dan persaingan pun pada dasarnya hanya pada bagian suara yang lebih jernih dan kemampuan menyanyi yang lebih berkualitas namun modal sound dan suara penyanyi ternyata tidak cukup juga dan akhirnya hiburan menghadirkan penyanyi yang lebih mampu bergoyang dengan upaya bagaimana dapat menghibur dan menarik minat pasar.
Sejak tahun 2000an ada beberapa pemilik elekton yang rela menjual elektone karena merasa sudah tidak diminati lagi, ternyata ada beberpa pemilik elekton yang berupaya bagaimana dominan dalam persaingan salah satu diantaranya dengan cara memasang harga yang lebih murah dan pasilitas yang sangat sederhana, misalnya elekton inisial AR yang berada dikota takalar pada tahun 2000an masih menerimah pesanan sampai Rp.600.000 pada saat mengisi acara pesta siang dengan menggunakan penyanyi dua orang dan pemain orgen tunggal satu orang. Sound juga secukupnya dan tidak menggunakan panggung. Namun disulawesi selatan makassar khususnya sangat jarang mengadakan pesta siang karena selain panas juga warga kurang yang datang karena berbenturan dengan pekerjaannya.
Perkerjaan sangat disibukkan diwaktu pagi sampai siang hari dan sore hari digunakan untuk istirahat hingga untuk menghadiri acara pesta siang sangat jarang. Sehingga masyarakat lebih banyak mengdakan acara pada saat malam hari setelah waktu sholat magrib sampai selesai. Jika pesta malam ini berlangsung maka hiburan juga dihadirkan dimalam hari dan kebanyakan masyarakat merasa tidak terhibur jika malam hari elekton yang menjadi hiburan tidak menggunakan panggung dan sound yang maksimal serta penyanyi yang hanya dua orang. Sehingga elektone yang masih mengunakan kemaksimalan diatas tidak laku lagi dimasyarakat.
Kebutuhan masyarakat  menjadi porsi yang harus dipenuhi oleh pemilik elektone sehingga elektonnya dapat diminati oleh banyak masyarakat. Dan pada akhirnya pemilik elekton pun menambah pasilitas mulai dari panggung, sound, serta lampu-lampu sebagai asesoris yang dapat memunculkan suasan ramai saat pertunjukan berlangsung. Jumlah penyanyi juga ditambah yang tentunya mempunyai kemapuan bergoyang dan tentunya banyak menguasai lagu. Jauh sebelum adanya orgen tunggal yaitu pada tahun 1970an sudah banyak penyanyi dangdut yang terkenal seperti Meggy Zakaria, vetty vera, Nur Halimah, Iis Dahlia, Ikke Nurjanah, Dewi Persik, Cici Paramida, Inul Daratista dan banyak lagi penyanyi dangdut lainnya.
Lagu-lagu yang diciptakan oleh para penyanyi terdahulu menjadi modal utama yang sering dibawakan oleh para penyanyi elekton dengan iringan orgen tunggal atau minus one. Namun seiring berkembangnya zaman maka masyarakat tidak cukup terhibur dengan hanya goyangan yang dianggap biasa-biasa saja. Kemudia munculnya media yang menarik perhatian saat tahun 2000an saat munculnnya goyangan yang meliuk-liuk dari atas kebawah yang dikenal sebagai goyangan maut yang dipopulerkan oleh Inul daratista. Ini salah satu faktor masyarakat lebih menyukai musik yang lebih goyang seperti aksi Inul daratista saat menyanyi diatas panggung. Meski saat itu Inul Daratista sangat dikecam oleh para ulama yang menganggap bahwa gaya musik yang tidak bermoral namun ternyata dengan isu itu juga nama dengan goyangan Inul Daratista semakin dikenal dimasyarakat.
Disini awal mula terlihat selera masyarakat bergeser dan akhirnya menjadi lirikan para pemilik elektone sehingga mulai muncul upaya-upaya para untuk mengkreasikan setiap elektonnya. Dengan upaya-upaya tersebut pemilik elektone mencoba mencari penyanyi yang mempunyai modal kecantikan dan modal tubuh yang dikenal dengan body gitar  yang tentunya bisa bernyanyi dan mampu bergoyang. Pemilik elekton tidak terlalu mementingkan kemampuan bernyanyi para biduan tetapi lebih mementingkan goyangan. Pemilik elektonpun tidak berhenti dengan sekedar memilih penyanyi seperti disebutkan diatas namun pemilik elektone  juga punya penilaian lain agar para biduan lebih maksimal diatas panggung, misalnya pemilik elektone memberikan poin atau honor lebih tinggi jika goyanggannya makin menarik sehingga biduan yang memang mengejar uang mencobah bergoyang semaksimal mungkin selain itu pemilik elektone biasanya mempersiapkan minuman keras dibelakang panggung sehingga semua biduan minum dengan upaya menghilangkan rasa malu diatas panggung.
Tidak banyak biduan elektone candoleng-doleng yang tidak mengunakan minuman keras pada saat persiapan sebelum bernyanyi.  Tidak jarang ditemukan elektone dimakassar yang bebas dari alkohol mereka menganggap bahwa alkohol dapat memberi mereka semangat dalam bernyanyi. Alkohol yang sering dikonsumsi bukan dari mereka sendiri tetapi kebanyakan disiapkan oleh pemuda setempat dimana mereka perfom. Upaya-upaya pemuda setempat memberikan alkohol seperti botolan atau pun tuak supaya mereka bias lebih dekat selain itu mereka senang ketika para biduan mabuk karena aksi diatas panggung dapat menghibur.
Pemilik elektone bukan hanya mempunyai modal uang tetapi juga mempunyai modal social dalam artian banyak kenalan disteiap daerah sehingga mereka lebih aman ketika perfom didaerah-daerah. Ketika modal social dan modal uang sudah ada maka  menjalankan bisnis pertunjukan ini menjadi lebih mudah. Kebanyakan terlihat dalam kelompok elekton-elekton lainnya mereka kadang takut perfom di daerah tertentu karena kebanyakan pemuda dimakassar sangat mudah mengundang keributan apalagi dalam kondisi keramaian. Hal ini juga menjadi modal utama sehingga mempunyai wadah perfom yang lebih luas dan aman.
Upaya-upaya pemilik elekton terlihat bagaimana caranya supaya mereka lebih menarik dimata masyarakat. Suatu keuntungan besar ketika mereka sudah dikenal dan diakui kualitasnya dimasyarakat, pemilik modal mampu menaikkan harga yang jauh dari sebelumnya. Harga menurut masyarakat tidak lagi menjadi masalah ketika kualitas memang memadai karena yang dibutuhkan masyarakat adalah bagaimana dapat menghibur para undagan yang datang.
Melihat upaya-upaya pemilik elektone Nampak juga agak rumit sehingga kelompoknya dapat dominan dimasyarakat. Upaya-upaya seperti diatas hanya dijalankan oleh para pemilik elekton dan tidak untuk semua pendukungnya. Upaya-upaya tersebut memang tidak terlalu Nampak namun pasti adanya, menarik dimasyarakat adalah keinginan semua pemilik elektone karena pemilik elektone menganggap ini salah satu pekerjaannya untuk memenuhi kebutuhan ekonominya. Perlu disadari bahwa ekonomi mempunyai kedudukan yang sangat tinggi untuk kesejahteraan hidup.  Ekonomi sekarang ini sudah menjadi penentu untuk menyambung hidup dan melengkapi kebutuhan hidup dan pada akhirnya tidak heran lagi jika upaya-upaya untuk mendapatkannya tidak begitu mudah.
Diera sekarang ini sudah banyak ideology para pemilik modal tidak asing lagi kelihatannya jika menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan keuntungannya sama halnya dengan upaya-upaya pemilik elektone menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan kebutuhannya. Sangat terlihat upaya-upaya pemilik elektone dalam penerapan ideologi untuk mendapatkan kebutuhannya, hal yang perlu diketahui bahwa pemilik modal bukan hanya memberikan keuntungan sebagai kepentingan pekerjanya melainkan mereka mempekerjakan juga berdasarkan kepentingan dirinya.
Upaya-Upaya Penyanyi Dalam Mengejar Kepentingannya
Biduan atau penyanyi elekton menjadi yang utama untuk menghibur penonton, pandangan penonton saat menyaksikan pertunjukan candoleng-doleng hanya tertuju pada satu arah yang pastinya dapa biduan atau penyanyi. Hal yang paling sering ditemukan ketika ada yang mempertanyakan kualitas elekton pasti pada kecantikan dan kemampuan  biduannya.
Hal ini terlihat bahwa semua pertunjukan candoleng-doleng hanya menarik pada penyanyinya sehingga penyanyi dipilih yang pastinya punya kemampuan dalam bergoyang dan bernyanyi selain itu juga mempunya modal tubuh yang menarik, karena yang diperjualkan lebih dominan pada goyangan  dibandingkan dengan suara.
Biduan bernyanyi dan bergoyang diatas pang juga bukan karena happy atau sekedar hobbi tetapi mereka juga mempunyai kepentingan yaitu uang. Mereka bergoyang supaya dapat menarik dan disenangi oleh masyarakat. Bergoyang dan bernyanyi seperti pada umumnya dikenal dimedia ternya tidak menarik bagi masyarakat. Dan pada akhirnya biduan mencari cara dan menggunakan kemapuannya untuk menarik perhatian masyarakat.
Salah satu dari banyak aksi candoleng-doleng dalam menarik perhatian masyarakat yaitu goyangan yang erotis yang dipertontonkan seorang biduan pada acara-acara pernikahan dibanyak wilayah disulawesi setan. Biduan memperdayakan dirinya untuk menari perhatian seperti misalnya bergoyang mengunakan pakaian yang terbuka. Goyangnya pun tidak sama dengan goyangan penyanyi dangdut yang ada dimedia, goyangan mereka memang sangat erotis dan dapat memancing birahi para penonton lelaki. Merka membuka baju mulai dari dan memperlihatkan kedua payu daranya dan meremas-remas seolah lagi melakukan seks dan meberikan desahan-desahan yang dapat menarik perhatian penonton. Bukan hanya itu mereka juga menerima saweran dengan cara menyelipkan uang penonton dibagaian tubuhnya yang sensitive. Upaya biduan  menerima saweran supaya mempunyai penghasilan lebih diluar dari honor yang sudah ditetapkan.
Untuk menghadirkan pertunjukan candoleng-doleng tidak membutuhkan uang yang begitu banyak biasanya pemilih hajatan mengeluarkan uang sebanyak 2,5 juta sebagai bayaran keseluruhan pertunjukan candoleng-candoleng, dengan jumalah seperti diatas pertunjukan sudah dapat dinikimati oleh seluruh masyarakat yang hadi dan tidak memandang usia baik dewasa maupun anak-anak. (Tribun Timur edisi 24 Juni 2008).
Jika dilihat honor tetap para penyanyi dalam setiap pertunjukan itu sangat sedikit, menurut harni salah satu penyanyi elekton Armin Super mereka mendapat seratus sampai dua ratus ribu setiap perfom diacara nikahan. Dan waktu perfomnya rata-rata 7 sampai 9 jam dimulai dari jam 8 malam sampai jam 2 pagi.
Jika dilihat penghasilan para penyanyi sangat tidak seimbang dibandingkan aksinya diatas panggung, mereka rela mandi keringat serta payu dara dan kemaluannya dipegang orang demi mendapatkan hasil seperti yang disebutkan diatas.
Beberapa biduan sebenarnya tidak rela mereka menjual kemaluannya diatas panggung tetapi mereka mempunyai tuntutan ekonomi. Mereka mengatakan banyak kebutuhan yang perlu dipenuhi seperti misalnya uang kuliah bagi yang masih kuliah dan biaya anaknya bagi yang janda. Kebanyakan dari mereka juga merasa malu dengan pekerjaanya, mereka tidak mau perfom jika dekat dari tempat tinggalnya karena takut ditonton dengan orang yang mereka kenal.
Pekerjaan seperti ini juga sangat berbahaya dari beberapa media meliput adanya penangkapan biduang candoleng-doleng yang digerebek oleh polisi saat pertunjukan berlangsung. Artinya pertunjukan seperti diatas juga masih dilarang karena dianggap pertunjukan yang tidak bermoral. Mereka juga sadar kalau mereka melakukan hal yang tidak baik dimata agama tetapi mereka tetap saja menjalangkannya karena tuntutan ekonomi.
Pertunjukan candoleng-doleng sering dibubarkan oleh para kelompok agama dimakassar tetapi sampai sekarang ini masih juga berlangsung, bahkan didesa tertentu dilarang lagi untuk menghadirkan pertunjukan erotis disetiap acara pernikahan. Hal demikian hanya berlaku dibeberapa desa saja dan masih banyak desa lain yang masih menerima pertunjukan seperti itu.
Dua bulan yang lalu saat liburan masih banyak ditemukan pertunjukan-pertunjukan candoleng-doleng disepanjang jalan. Peminatnya masih terlihat dimana jalan masih depenuhi oleh penonton yang tidak terhitung jumlahnhya. Pertunjukan candoleng-doleng bukan hanya tontonan untuk orang dewasa melainkan juga anak-anak dan bahkan cewek juga ikut menyaksikannya.
Upaya-upaya diatas bukan hal yang dibuat-buat oleh para penyanyi, hal seperti itu menjadi tuntuntan Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa pemilik elekton tidak hanya memangil penyanyi melainkan punya beberapa pertimbangan yaitu mampu bergoyang dan tentunya mempunyai tubuh yang menarik. Upaya-upaya para penyanyi menjadi sebuah kewajiban supaya mereka dapat dipanggil oleh pemilik elektone, selain itu pemilik elekton juga menggunakan cara seperti misalnya membayar lebih tinggi atau dapat dikatakan bonus kepada penyanyi yang mampu bergoyang dan mampu meramaikan pertunjukan candoleng-doleng. Secara tidak sadar setiap biduan mengejar bonus itu dan mengupayakan sekuat tenaganya supaya dapat dibandingkan beberapa biduan lainnya.
Rasa malu terhadap penyanyi sebenarnya masih ada tetapi ini merupakan tuntutan buat mereka jika ingin mendapatkan upah yang lebih tinggi. Salah satu cara mereka agar dapat maksimal diatas panggung adalah minum atau mabuk, karena dengan cara seperti itu mereka dapat lebih rileks dan lebih bebas diatas panggung.
Dengan berbagai penjelasan diatas maka timbullah persepsi sendiri bahwa upaya-upaya penyanyibukan asli dorongan dalam dirinya karena mereka masih menggunakan alkohol sebagai pendorong untuk mereka lebih aksi diatas panggung, dan mereka sendiri masih punya rasa malu dimana mereka masih memilih tempat-tempat tertentu yang pastinya tidak ada orang yang mereka kenal.
Melihat pertunjukan candoleng-doleng sebagai suatuh wadah mencari kepentinganm antara pemilik elektone dan penyanyi menjadi sebuah hal yang kontras diuman pemilik modal mengupayakan keintektualannya sedangkan penyanyi sendiri mengupayakan harga dirinya,dan pada akhirnya kedua kepentingan tercapai dengan cara yang berbeda.
Pertunjukan candoleng-doleng sudah layak dipandaang sebagai wadah pengeksploitasian, selain itu juga terdapat degradasi gender dan sekaligus degradasi moral. Dalam konteks seperti ini kita dapat melihat kedudukan perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki diman perempuan hanya sebagai tontonan dan hiburan yang dinikmati oleh banyak orang, namun yang dinikmati bukan dari kemampuan mereka pada umunya tetapi harga diri mereka yang menjadi hiburan masyarakat umum. Jika kita berbicara moral sebagai manusia yang berbudaya dan manusia yang beragama maka kedudukan moral adalah paling utama dalam hidup, apalagi khusnya masyarakat makasar yang memegang prinsip siri na pacce mereka sudah tidak ada lagi rasa malu dengan hanya karena kebutuhan ekonomi.
Kesimpulan
            Pertunjukan candoleng merupakan wadah dalam mencari kepentingan baik dari pemilik modal maupun biduan sehingga cara dalam meraih kepentingan keduanya terdpat pengeksploitasian. Meski penyanyi tidak merasa tereksploitas dalam wadah tersebut tetapi kenyataanya sangat Nampak, penyanyi mencari kepentingan berdasarkan kemampuan dan menjual harga dirinya sedangkan pemilik modal mencari kepentingan berdasarkan keintelektuannya. Jika memang keintelektualan dan kekayaan itu hadir sebagai pengeksploitaisan maka apalah upaya orang yang tidak mampu seperti mereka, berbicara keadilan maka halo yang terjadi diatas sangat Nampak ketidak adilannya.
 Pemilik elekton mengpayakan caranya seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa dalam memilioh biduan bukan sekedar memilih melainkan banyak pertimbangan dan memberikan bonus tertentu buat penyanyi lebih aktif secara tidak sadar mengajak para penyanyi untuk biasa ber_aksi diatas panggung sesuai kemampuan yang dimilik tanpa ada lagi pertimbangan malu, pemilik modal mengupayakan hadirnya minuman supaya para penyanyi dapat bergoyang diatas panggung diluar dari kontropl yang normal.
Dengan hadirnya pertunjukan candoleng-doleng maka berbagai perspektif muncul diman konflik social antara yang pro dan kontra. Jika dilihat lagi dari segi hokum maka pertun jukan tersebut dianggap salah satu aksi porno. Selain itu penghasilan-penghasilan yang dianggap kempentingan utama bagi pemilik elekton ternyata nampaknya tidak pada jalan yang benar. Dalam pertunjukan candoleng-doleng dapat disimpulkan bahwa keintelektualan pemilik elektone dpat mengeksploitasi gender sehingga menghilangkan nilai-nilai humanis baik masyarakat penonton dan khusunya wanita sebagai biduan atau penyanyi.



Analisa Bentuk Musik Lagu: Indonesia Pusaka Ciptaan: WR. Supratman

Analisa Bentuk Musik
Lagu: Indonesia Pusaka Ciptaan: WR. Supratman
Oleh:Dita

Lagu Indonesia pusaka adalah salah satu lagu nasional yang tidak dikenakan sejak kecil, lagu tersebut sering kita temuikan pada saat upacara nasional ataupun kegiatan yang sifatnya kenegaraan serta pendidikan. Lagu Indonesia pusa telah diaransement oleh ismail marzuki dan dan dikenal sangat berkesan perjuangan. Lagu tersebut sangat populer pada seluruh masyarakat Indonesia dimana lagu tersebut banyak dikenal dan dapat dikatakan seluruh Indonesia mengenalinya.
Lagu Indonesia pusaka dianggap populer sehingga saat ini penulis menjadikan sebagai objec dalam pengaplikasian ilmu yaitu ilmu bentuk analisa musik. Analisis  dalam  Kamus  Besar  Bahasa  Indonesia  (1998: 37),  adalah penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri  serta hubungan  antara  bagian  untuk  memperoleh  pengertian  yang tepat  dan  pemahaman  arti  keseluruhan[1].  Menurut  Chaplin  (2000  :  25), analisis ialah proses mengurangi kekompleksan suatu gejala rumit sampai pada pembahasan bagian-bagian   paling elementer atau bagian-bagian paling  sederhana[2]. Menurut The  Norton/Grove  Concise  Encyclopedia  of Music  Revised  and  Enlarged,  analisis  adalah  bagian  dari  belajar  musik yang   diambil   dari   bagian   musik   itu   sendiri[3].   Ini   biasanya   meliputi pemecahan dari sebuah susunan musik kedalam elemen-elemen unsur pokok yang relatif sederhana, dan peranan-peranan   penelitian pada elemen-elemen tersebut dalam susunannya terdapat banyak perbedaan tipe-tipe dan metode-metode analisa, termasuk susunan pokok (Schenker), dari tema, dari bentuk  (Tovey), dari  bagian  susunan  (Riemann)  dan dari informasi teori.
Menurut Safrina (2003 : 2), musik adalah suatu hasil karya seni bunyi dalam bentuk lagu atau komposisi musik, yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penciptanya melalui unsur-unsur musik yaitu irama, melodi, harmoni, bentuk/struktur lagu dan ekspresi. Banoe (2003 : 288) mengatakan bahwa musik adalah cabang seni yang membahas dan menetapkan berbagai suara ke dalam pola-pola yang dapat dimengerti dan dipahami manusia”.Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997: 676),”musik merupakan nada atau suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan (terutama yang menggunakan alat-alat yang dapat menghasilkan bunyi-bunyi itu).
            Dengan beberpa anggapan yang dikutip dari beberapa ilmuan yang dianggap berpengalaman dalam menganalisa bentuk musik serta memahami musik atau lagu yang dijadikan sebagai kerangka berfikir atau dijadikan sebagai landasan untuk menganalisi bentuk lagu Indonesia pusaka. Meski lagu yang dimaksudkan oleh beberapa pakar diatas itu tidak sama, karena lagu yang dijadikan objek saat ini merupakan lagu sederhana namun penulis menganggap tidak menjadi permasalahn karena setiap lagu yang pasti mempunyai unsur-unsur seperti yang telah disebutkan diatas.

Sebelum mengetahui bentuk musik sebaiknya perlu mengetahui apa-apa saja yang terdapat dalam musik. Jika mengenai bagian-bagian dalam musik maka terlebi dahulu kita mengetahui struktur atau bagain yang terdapat dalam suatu komposisi musik. Ada beberapa struktur yang musik yang terdapat dalam musik barat ataupun sebagian musik timur (etnis) yaitu: melodi, ritme, harmoni, dan dinamik.
Melodi  adalah  susunan  rangkaian  nada (bunyi  dengan  rangkaian teratur)  yang terdengar  berurutan  serta  berirama dan  mengungkapkan suatu gagasan pikiran dan perasaan (Jamalus, 1998 :16). Melodi adalah naik turunnya harga nada yang seyogyanya dilihat sebagai gagasan inti musikal,  yang  sah  menjadi  musik  bila ditunjang  dengan  gagasan  yang memadukanya  dalam  suatu  kerja  sama dengan  irama,  tempo,  bentuk dan lain
-lain (Ensiklopedi musik, 1992: 28). Dari pengertian-pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa melodi adalah suatu rangkaian nada yang terbentuk  dari perubahan-perubahan  harga  nada  dalam  kaitannya dengan irama, tempo, bentuk dan sebagainya.
            Ritme  adalah  rangkaian  gerak  yang  beraturan  dan  menjadi  unsur dasar  dari  musik.  Irama  terbentuk  dari  sekelompok  bunyi  dan  diam panjang  pendeknya  dalam  waktu  yang  bermaca-macam, membentuk pola  irama  dan  bergerak  menurut  pulsa  dalam  setiap  ayunan  birama (Jamalus,  1998:  7).
            Harmoni  adalah  cabang  ilmu  pengetahuan  musik  yang  membahas dan membicarakan perihal keindahan komposisi musik  (Banoe, 2003: 180). Dan Dinamik adalah keras lembutnya dalam cara memainkan musik, dinyatakan dengan berbagai istilah seperti: p (piano), f (forte),mp (mezzopiano), mf (mezzoforte), cresc (crescendo), dan sebagainya (Banoe, 2003: 116). Hal-hal diatas tentu terdapat pada setiap lagu meskipun tidak semuanya unsur tersebut, melainkan beberapa unsur yang disebutkan. Namun pada dasarnya semua lagu mempunyai unsur–unsur diadalamnya termasuk lagu Indonesia pusaka yang dijadikan objek saat ini. Selain itu juga masih terdapat beberapa unsur yang lebih detail dari unsur-unsur yang yang disebutkan diatas yaitu: motif, tema, frase,
 Motif adalah bagian terkecil dari suatu kalimat lagu, baik berupa kata, suku kata ataau anak  kalimat yang  dapat  dikembangkan  (Banoe,2003 : 283). Motif yang terdapat pada lagu indenesia pusaka  penggalan birama diatas merupakan salah satu contoh motif yang terdapat pada kalimat melodi pertama dalam lagu Indonesia pusaka. Beberapa motif tersebut yang dipadukan hingga menjadi sebuah kalimat melodi, dapat dilihat kalimat pertama yang terdapat pada lagu Indonesia pusaka.
Lagu Indonesia pusaka menggunakan melodi Tanya jawab. Dapat dilihat contoh penggalan kalimat diatas yang terdapat pada birama pertama sampai dengan birama ketinga merupakan kalimat Tanya dan birama empat dengan birama lima sebagai kalimat jawab.
Lagu Indonesia pusaka menggunakan tangga nada diatonis barat dimainkan dengan nada dasar C. akord yang terdapat pada bagian kalimat melodi pertama adalah akor C sampi pada birama ketiga yaitu kalimat jawab dan akord yang digunakan adalah akord Am, F, dan G. dalam kalimat melodi yang ada pada posisi Tanya terdapat pengembangan akord dapat dilihat pada contoh penggalan birama lagu Indonesia pusaka.
Salah satu contoh penggalan birama yang terdapat dua kalimat yaitu kalimat Tanya dan kalimat jawab yang terdapat pada lagu Indonesia pusaka. Lagu Indonesia pusaka menggunakan birama 4/4 dan pada birama pertama dimulai pada ketukan ke tiga. Kalimat diatas juga merupakan tema pokok dalam lagu Indonesia pusaka. Dapat dilihat pengembangan tema serta perubahan akord yang tedapat pada birama ke enam sampai pada birama kesembilan dapat dilihat bentuk pengembangan melodi dan perubahan akord dari tema diatas.
Pada penggalan kalimat melodi lagu Indonesia yang terdapat pada birama keenam sampai dengan birama ke Sembilan maka dapat dipahami bahwa lagu tersebut banyak pengembangan-pengembangan melodi yang berangkat dari tema pokok yang terdapat pada birama pertama sampai dengan birama kelima. Dapat dilihat pada nada ketukan pertama yang tedapat dalam birama enam. Akord juga lebih diperkecil. Dalam penggalan kalimat melodi lagu Indonesia pusaka yang tedapat pada birama keenam sampai kebirama Sembilan juga sama dengan birama sebelumnya yaitu kalimat Tanya dengan kalimat jawab.
Pada tema selanjutnya dalam lagu indonesia pusaka terdapat beberapa birama dalam satu rangkaian kalimat. kalimat melodi dalam lagu indonesia pusaka yang terdapat pada tema merupakan kalimat Tanya yang panjang yang berbeda dengan kalimat melodi yang tedapat pada tema diatas dapat dilihat tema kedua yang terdapat dalam lagu tersebu.
Tema kedua dalam lagu tersebut yang mengalami perubahan akord yang tidak sam dengan progress akord dalam kalimat sebelumnya. Pada penggalan kalimat tersebut terdapat tambahan akord Em pada birama ketiga. Dan kalimat melodi yang terkhir yang terdapat dalam lagu indonesia pusaka merupakan pengulangan dari kalimat melodi sebelumnya. Meski dilihat dari segi nada yang berbeda namun akord yang digunakan tetap sama dapat dilihat penggalan kalimat melodi yang tedapat pada bagian akhir lagu indonesia pusaka.
Dapat kita lihat pada penggalan melodi sebelumnya, hampir sama mulai dari segia akord dan yang berbeda hanya ada pada nada yang terdapat pada akhir birama karena yaitu  menggunakan nada yang rendah yang dapat lebih memperjelas akan kalimat lagu. Perubahan nada seperti pada kalimat terakhir juga dialami dari beberapa lagu lainnya Karena nada rendah yang dapat memperjelas akan berakirnya lagu.
Dari beberapa kalimat lagu yang terdapat diatas merupakan keseluruhan melodi dalam lagu indonesia pusaka. Melodi diatas diulang-ulang dengan lirik yang berbeda-beda. Pada kalimat pertama terdpat beberapa repetisi melodi hanya saja menggunakan lirik yang berbeda. Dan kalimat kedua yang digunakan dalam reeff lagu tersebut. Sedikit contoh tentang penggalan lagu indonesia pusaka.
 
Berikut diatas contoh melodi lagu indonesia pusaka beserta dengan liriknya. Secara keseluruhan lirik lagu indonesia pusaka sebagai berikut:
Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap di puja-puja bangsa
Reff :
Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Tempat akhir menutup mata


Sungguh indah tanah air beta
Tiada bandingnya di dunia
Karya indah Tuhan Maha Kuasa
Bagi bangsa yang memujanya
Reff :
Indonesia ibu pertiwi
Kau kupuja kau kukasihi
Tenagaku bahkan pun jiwaku
Kepadamu rela kuberi[4].
Kesimpulan
Lagu indonesia pusaka tergolong lagu sederhana dimana kalimat melodi selalu ada pengembangan. Jika dilihat dari segina nada pun diatas sangat tidak jauh berbeda dari tema awal dengan pengembangannya. Hanya nada yang dikembangkan serta akord yang lebih diperkecil.
Lagu indonesia pusaka menggunakan tangga nada diatonic barat. Dengan nada dasar C natural. Lagu indonesia pusaka menggunakan birama 4/4 dan tergolong dua bagian yaitu  bagaian awal dan reff lagu. Lagu tersebut juga menggunakan pengulang melodi dengan lirik lagu yang berbeda seperti yang telah dijelaskan pada lemabaran sebelumnya. Secara keseluruhan lagu tersebut hanya dianalisis dari segi nada pokok dan iringan akord serta lirik lagunya.
Lagu diatas terlihat sederhana karena hanya ada tiga yang yang menjadi pembahasan penting yaitu lirik dan melodi dan akord sebagai iringannya. Penulis lebih melihat pada melodi dan dan iringan akord tanpa ada kajian mengenai arti dan konteks yang terdapat dalam lirik lagu. Hal demikian terjadi karena mengacu pada capaian penulisan tersebut. Seperti yang tedapat pada bagian judul yaitu analisa bentuk musik. Penulis menganggap bahwa ketiga hal diatas sudah dapat mewakili dari keseluruhan bentuk lagu.
Dengan analisis tiap kalimat melodi diatas dengan cara menampilkan wujud musikal atau partitur lagu penulis berharap dapat memberikan penggambaran tentang bagaiman bentuk lagu serta kalimat dan sampai pada tema melodi poo yang terdapat pada lagu indonesia pusaka. 






SUNRISE OF JAVA SEBAGAI UPAYA PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR DINAS KEBUDAYAAN DAN PARAWISATA UNTUK PENUNJANG EKONOMI KREATIF - TAMAN BUDAYA CAK DURASIM - SURABAYA

GELAR SENI BUDAYA DAERAH JAWA TIMUR:

SUNRISE OF JAVA SEBAGAI UPAYA PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR DINAS KEBUDAYAAN DAN PARAWISATA UNTUK PENUNJANG EKONOMI KREATIF - TAMAN BUDAYA CAK DURASIM  - SURABAYA

Oleh: Dita

Abstrak

Gelar Seni budaya daerah merupakan agenda rutin yang dilaksanakan di taman budaya cak durasim Surabaya jawa timur, salah satu tema gelar seni budaya adalah sunrise of java, gelar seni budaya yang berasal dari banyuwangi. Sunrise of java adalah salah satu tema yang dapat memberikan gambaran kesenian melalui ikon-ikon pertunjukan seni baik tari maupun musik daerah. Pertunjukan yang menjadi salah satu refresentasi suatu wilayah yang terdapat di jawa timur. Upaya-upaya pengembangan kesenian daerah yang dikelolah oleh parawisata yang tidak lain sebagai pelestarian seni budaya yang terdapat dibanyuwangi dan sekalgus sebagai refresentasi kekayaan sumber daya manusia dan kekayaan alam serta keratif masyarakat yang dapat menjadi sebuah daya tarik yang dapat menujang  kearah ekonomi kreatif dengan upaya meningkatkan ekonomi dan lahan mata pencaharian buat masyarakat yang ada di jawa timur.

Kata Kunci: Sunrise of java, pemerintah provinsi jawa timur dinas kebudayaan dan parawisata, ekonomi kreatif.

       I.            Pendahuluan

Sunrise of java adalah tema pertunjukan dalam gelar seni budaya daerah jawa timur yang meramaikan taman budaya cak durasim jawa timur pada tanggal 17-18 april. sunrise of java sebagai penamaan daerah banyuawangi yang berarti mata hari pagi karena letak wilayahnya berada paling ujung timur pulau jawa. Banyuawangi dikenal dengan sebutan diatas karena sinar matahari pagi pertama kali menerangi wilayah timur. Tema diatas merupakan refresentasi wilayah yang mungkin sudah dikenal  banyak orang karena setiap penulis mempertanyakan pada orang-orang yang menghadiri acara tersebut kebanyakan mengakatakan sebutan popular daerah banyuwangi hingga menurut penulis sendiri sunrise of java adalah salah satu onometope dari rutinitas alam yang mempunyai filosofi dan makna tersendiri kemudian dijadikan sebuah nama  wilayah banyuwangi dan hingga akhirnya dikenal dan oleh banyak orang.

Sunrise of java penamaan daerah banyuwangi dengan bahasa inggris yang pertama kali menjadi pusat pandangan saat melihat kearah panggung pandapa taman budaya cak durasim yang di pajang pada sisi panggung dengan ukuran poster kurang lebih 5x3 meter. Tulisan tersebut serasa memberi stimulus buat penulis hingga akhirnya muncul interpretasi bahwa wilayah banyuwangi sudah hanyut pada arus globalisasi karena penulis sendiri sebagai orang awam sangat tertarik melihat tema acara tersebut  karena membawa kesan kekinian. Hal tersebut sangat menarik dimana karena menurut keterbatasan pengetahuan penulis, masyarakat jawa pada umumnya masih menjujung tinggi bahasa local dan ciri-ciri kedaerahan namun event  saat ini menggunakan bahasa inggris, hal ini lebih meyakinkan kepada penulis bahwa event gelar seni budaya yang bertemakan sunrise of jawa sudah menjadi menjadi campur tangan parawisata.

gelar seni pertunjukan daerah yang terkesan kekinian ini menjadi menarik, penulis merasa lagi berkunjung kewisata daerah banyuwangi, disekitar pekarangan taman budaya cak durasim diwarnai dengan khas banyuwangi. Mulai dari penjual yang berjejer mengelilingi panggung pertujukan semuanya membawa ciri khas daerah banyuwangi, Mulai dari sisi kanan sampai sisi kiri panggung menjual kerajinan tangan, patung, pakaian asesoris dan bahkan makanan ciri khas banyuwangi. setelah beberapa jam mengelilingi taman budaya cak durasim, penulis diberi bingkisan oleh panitia pelaksana gelar seni pertujukan daerah tersebut. Sambil istirahat penulis membuka bingkisan yang  berisikan dengan beberapa buku dan makanan khas banyuwangi. Istirahat pun berlangsung sambil membaca beberapa buku yang terdapat dalam bingkisan tersebut. Sembari merebahkan badan paragrap demi paragrap juga terlewatkan dan menyimak sedikit demi sedikit maksud yang terkandung didalam buku tersebut.

Buku-buku yang yang terdapat dalam bingkisan itu membahas beberapa wisata yang terdapat dijawa timur seperti misanya: pantai serang dan gua embul tug yang terdapat di Kabupaten Blitar, gili timur dan pantai dalegan di Kabupaten Gresik dan masih banyak lagi wisata-wisata yang terdapat beberapa kabupaten di Jawa Timur. Buku-buku tersebut sebagaian besar hanya membahas maslah kekayaan alam dan jika melihat even Gelar Seni Budaya Daerah Jawa Timur ini bukan hanya pementasan kesenian budaya melainkan juga pameran kekayaan alam dan salah satu yang menjadi promosi parawisata adalah menuliskannya buku-buku yang berisi tentang wisata alam dan kesenian yang terdapat di Jawa Timur kemudian dibagikan kepada mahasiswa sebagai pengunjung.

Upaya-upaya promosi terlihat sangat menarik dan mempunyai nilai tambah atas deskripsi setiap wisata yang ada dijawa timur. Cara yang dilakukan parawisata dalam pengenalan tersebut bukan hanya melalui buka saja tetapi menggunakan piringan kaset VCD yang berisikan lagu-lagu Jawa Timur seperti pada lagu Kangen Mangetan  yang dinyanyikan oleh Drs. H. Sumantri, MM sebagai Bupati Magetan. Dalam lirik lagu tersebut diatas juga merefresentasikan wilayah magetan dan menceritakan akan kerinduan oleh daerah yang mempunyai kekayaan alam yang luar biasa[1].

Dengan cara-cara seperti diatas dapat lebih luas memperkenalkan keberadaan wilayah dan kekayaan alam yang dimiliki. Hal seperti diatas juga tidak terlepas oleh fungsi utama taman budaya Jawa Timur seperti yang dikatakan oleh Sukatno, S.Sn, MM sebagai kepala UPT taman budaya jawa timur. Beliau mengatakan bahwa taman budaya adalah ruanbg public untuk beraktivitas berkesenian, baik sebagai tempat berlatih, eksplorasi, workshop, maupun pementasan lainnya dan pameran yang didukung melalui program kegiatan yang didanai oleh pemerintah maupun melalu partisipasi masyarakat. Untuk itu menjadi harapan oleh semua pihak, dengan upaya-upaya seperti ini masyarakat akan dapat kontribusi dalam melanjutkan kesenian dan kerajinannya yang telah memberikan kontribusi dan nilai budaya bagi partisipasinya.

Dengan hadirnya berbagai tulisan-tulisan ini tidak terlepas pada informasi pengenalan dengan upaya memberikan informasi kepada pengunjung dalam upacara gelar seni budaya daerah. Semakin banyak yang mengenal maka semakin banyak tertarik dan banyak menimbulkan rasa penasaran dan rasa ingin mengunjunginya daerah-daerah yang penuh dengan keindahan alam dan keragaman budayanya.

Beberapa upaya-upaya pemerintah dinas kebudayaan dan parawisata yang menurut hemat penulis sebagai penunjang dalam menuju ekonomi kreatif. Upaya-upaya tersebut sangat membantu dalam pengenalan budaya local dan banyak menghasilkan ruang penghasilan buat masyarakat yang berada sekitar tempat-tempat wisata.

Budaya, kekayaan alam, dan kesenian menjadi harta besar dalam pengembangan ekonomi kreatif dalam suatu wilayah. Pemerintah dinas kebudayaan dan parawisata jawa Timur dapat mengelolah dengan baik harta-harta tersebut dan taman budaya dengan event gelar seni budaya daerah menjadi ruang yang tepat untuk menjadi wadah yang dapat menarikj pengunjung dari berbagai daerah dan menjadi ruang promosi seperti yang dikatakan oleh mengatakan bahwa upaya-upaya penerbitan buku-buku tersebut sebagai bagian untuk mepromosikan keberadaan taman budaya jawa timur dengan segala aktivitas dan kegiatannya.

    II.            Gelar Seni Budaya Daerah Jawa Timur

Gelar seni budaya daerah dengan tema sunrise of java mengahadirkan beberapa kesenian banyuwangi dengan kemasan yang menarik yang dibawakan oleh seniman-seniman professional hasil pilihan parawisata sangat menarik perhatian banyak penonton yang hadir

Suasana pandapa taman budaya cak duarasim jawa timur begitu ramai dengan hadirnya pertujukan kesenian banyuawangi, penulis  merasa hadir dalam konser music popular dengan berbagai mahasiswa dan masyarakat jawa timur serta pemerintah juga ikut mengapresiasi event tersebut. Kursi bahkan tidak cukup untuk menampung semua penonton yang hadir sehingga bagian luar pendapa juga banyak yang berdiri.

Pengungjung yang hadir bukan semata-mata menimati pertunjukan tetapi juga menikmati makanan khas banyuwangi dan membeli asesoris dan pakaian-pakaian khas banyuwangi. Beberapa penonton terdekat kursi penulis mengatakan bahwa gelar seni budaya daereah ini menjadi perhatian banyak masyarakat di jawa timur. Gelar seni budaya daerah ini mempunyai event rutin dan menyajikan beberapa kesenian secara bergiliran. Setiap satu bulan menghadirkan dua tema pertunjukan dengan tema yang berbeda sesuai dengan daerah yang sudah dijadwalkan.

Gelar seni budaya daerah yang diadakan oleh pemerintah dinas kebudayaan dan parawisata ini bukanlah sekedar pertunjukan melainkan mempunyai dampak lain yang dapat memberi kontribusi kepada masyarakat jawa timur. Selain memberikan hiburan terhadap masyarakat secara umu juga menjdai wadah pelestarian budaya, dimana pelaksana secara umu adalah remaja. Hal ini menjadi salah satu cara pewarisan budaya karena kebanyakan pemain dalam gelar seni budaya daerah itu adalah remaja. Hal tersebut tidak jauh beda dengan institusi yang mengajak para genaerasi untuk mengenal dan melestarikan budayanya. Upaya-upaya seperti diatas sangat jarang ditemukan didaerah lainnya apa lagi dengan sumberdaya kreatifitas yang berbasis kesenian. Kemabanyakan wadah kreatifitas yang muncul diera globalisasi ini yaitu yang berbasis modernisasi jika diakaitkan dengan budaya local terkadang tidak sesuai. Misalnya seks dancer yang yang hanya mempertontonkan keindahan dan kemampuan penari dalam menggerakkan badannya. Hal ini bukan berarti hal yang tidak layak dihadirkan dimasyarakat karena juga merupakan pertunjukan seni. Namun perlu disadari bahwa pertujukan seni bukan hanya pertunjukan semata melainkan pertujukan seni adalah tontonan yang bersifat mengibur dan tuntunan yang bersifat panduan etika dan tentunya  sebagai refresentasi budaya masyarakatnaya.

Penulis melihat bahwa dalam gelar seni budaya daerah jawa timur ini bukan konsep yang ringan dalam artian gelar seni budaya banyak memberikan dampak kepada masyarakat. Dan salah satu keuntungan besar  buat masyarakat jawa timur karena masih mendapat perhatian penuh dari pemerintah. Meski tidak keseluruhan masyarakat sebagai pelaku seni tetatpi bukan berarti mereka tidak mendapatkan dampak positiof didalamnya. Karena hadirnya gelar seni budaya daerah ini juga dapat membantu beberapa penjual, seperti penjaul-penjual es dan dan penjual lainnya karena gelar seni budaya tersebut dapat menarik dan mengumpulkan banyak orang yang kemudian bias menjadi pasar buat para penjual.

Upaya-upaya pemerintah dinas kebudayaan dan parawisata jawa timur sangat terlihat perhatiannya terhadap kesenian dan wisata alam. Meski setiap pemerintahan itu mepunyai politik yang berbeda yang mungkin belum diketahui oleh masyarakat dan penulis sendiri belum dapat menjelaskannya tetapi paling tidak dengan konsep-konsep yang hadir dapat member kontribusi yang lebih terhadap masyarakatnya.

Perlu diketahui bahwa pemerintah memberikan ruang bukan semata-semata pada kepentingan masyarakatnya melainkan mereka menciptakan ruang juga tidak terlepas darei kepentingan dirinya sendiri. Hal demikian mungkin perlu dilirik lebih jauh lagi khusunya para akademisi yang menekuni ilmu-ilmu tertentu, dengan upaya serti itu masyarakat dapat lebih sejahterah dan kemunbgkinan beswar dapat menimbulkan konsep-konsep baru yang mungkin member kontribusi yang lebih besar pada masyarakat jawa timur.

Terlepas dari pemerintahan dianas kebudayan dan parawisata jawa timur penulis juga berharap konsep-konsep demikian dapat menjadi inspirasi buat pemerintahan lainnya yang ada di Indonesia. Bagaiman menghadirkan wadah berkesnian dan wadah kreatifitas yang sekaligus dapat memberi kontribusi buat masyarakat non seniman atau masyarakat keseluruhan. Hal demikian dapat menjadi stimulus untuk membangun konsep-konsep pelestarian budaya sekaligus mengupayakan penikatan ekonomi daerah dengan menggunakan media-media kreatifitas yang tentunya tidak terlepas pada nilai budaya.

Melihat jauh lebih dalam, kita perlu menyadari bahwa pemerintah dinas kebudayaan dan parawisisata merupakan bagaian darai struktur pemerintahan kenegaraan. Jika berbicara struktur maka tentunyua tidak terlepas pada perhatian struktur diatsnyanya, maka dari itu penulis menganggap bahwa upaya ini juiga menjadi salah satu politik atau cara pemerintah untuk mencari focus pada struktur diatasnya. Sesuai dengan keterbatasan bacaan penulis dengan hadirnya gelar seni budaya taman budaya cak durasim mendapat perhatian lebih terhadap pemerintahan provinsi terbukti dan adanya sarana prasarana yang diberikan pada pemerintah provinsi untuk melestarikan budaya-budaya serta kesenian yang tedapat diberbagai daerah di jawa timur.

Dapat dilihat dari salah satu blog diinternet tentang  berita rakyat yang  menegaskan bahwa  provinsi Jatim sampai akhir 2014, memiliki pelaku UMKM  sekitar  6,8 juta, dan 30,31% dari jumlah tersebut telah mendapat bantuan dari pemprov Jatim. UMKM dan sektor koperasi menyumbang 60,1 % atau sebesar Rp. 548,91 triliun terhadap PDRB Jatim yang mencapai  Rp. 1.262 triliun[2]

Untuk itu gelar seni budaya daerah, penulis menganggap bahwa salah satu mode untuk mendorong dan memperluas pasar produk agar lebih mampu bersaing dengan dari segi ekonomi.

Pada sumber yang sama juga ditegaskan oleh Gubernur Jatim Dr H Soekarwo dalam sambutan yang disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Jatim Dr. H. Akhmad Sukardi, MSi, saat membuka Gelar Seni Budaya Daerah  Kab Magetan, di Taman Budaya Jawa Timur. Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang sudah didepan mata, yang dibentuk dari keinginan negara-negara Asean untuk mewujudkan Asean menjadi kawasan perekonomian yang solid dan diperhitungkan dalam perekonomian internasional, utamanya dalam penguatan daya saing untuk memenangkan kompetisi global. MEA menempuh empat tahapan strategis, meliputi pencapaian pasar tunggal, kesatuan basis produksi, kawasan ekonomi berdaya saing, pertumbuhan ekonomi yang merata dan terintegrasi dengan perekonomian global[3]. “Maka, daerah harus memberdayakan dalam mengolah potensinya dengan sumberdaya sendiri, baik sumberdaya entrepreneur maupun sumberdaya teknis ekonomi lainnya,” tandasnya.

Bupati Magetan H Sumantri, MM mengatakan, dengan kekayaan seni budaya yang beragam yang ada di magetan dapat dikembangkan dengan baik sehingga dapat PAD Magetan.  Kabupaten magetan terletak di kaki gunung lawu yang kaya objek wisata alam seperti danau dan air terjun. Telaga sarangan merupakan salah satu obyek wisata andalan Magetan, setiap tanggal 1 suro masyarakat sekitar melakukan upacara labuh sesaji ke tengah telaga. Hal ini merupakan daya tarik witawan, baik domestik maupun mancanegara.

Selain itu terdapat pula telaga wahyu, bumi perkemahan Mojosemi, air terjun Tirtosari, Taman Ria Manunggal, dan Taman ria Kosala Tirta. Sedangkan obyek wisata ziarah dapat berkunjung ke makam GBR. AY. Maduretno dan monumen Soco. Hal-hal demikian menjadi sumber acuan dengan hadirnya gelar seni budaya dengan upaya pelestarian dan keunggulan ekonomi dan tentunya mengupayakan SDM lokal. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Dr H Djarianto mengatakan, kegiatan gelar seni budaya daerah ini merupakan bentuk sinergi antara pemerintah provinsi Jatim dengan kabupaten/ kota dalam mendorong pengembangan dan promosi seni  budaya, pariwisata, serta produk berbasis seni budaya.

Taman budaya Jawa Timur sebagai unit pelaksana teknis Dinas kebudayaan dan parawisata  provinsi Jatim, merupakan unit yang diharapkan mampu menjadi  pusat kegiatan seni Jatim. Dari sisi kalender event, kegiatan taman budaya dapat digunakan sebagai promosi pariwisata budaya karena aksesnya mudah, jadwalnya pasti, sajiannya menarik dan tempatnya jelas[4]

Dalam hal ini terlihat bahwa pemerintah provinsi dinas kebudayaan dan parwawisatan jawa timur mengupayakan kekayaan alamnya dengan cara melestarikan budaya dan kesenian untuk membangun ekonomi kreatif masyarakat jawa timur.

 III.            Kontribusi Sunrise off java pada masyarakat Surabaya sekitaran taman budaya cak durasim

Sunrise of jawa merupakan wadah yang dapat menarik perhatian dan mampu mengupulkan banyak orang untuk menyaksikan riuhnya musik dan gemulai goyangan gadis-gadi banyuwangi. Dengan hadirnya begitu banyak penonton masyarakat yang terdapat disekitar taman budaya cak durasim pun merasa mendapat kontribusi. Penulis mengelilingi sekitar pandapa pertunjukan ternyata banyak masyarakat yang menjual rokok dan angkringan pun yang berada disekitar pendapa telihat ramai.

Dengan hadirnya pertunjukan tersebut masyrakat Surabaya sekitan taman budaya cakdurasim dapat menyaksikan pertunjukan dengan gratis. Dan sekaligus dapat mencari uang dengan cara menjual dagangan yang bermacam-macam. Penulis dapat menyimpulkan dengan hadirnya gelar seni budaya ini juga dapat member kontribusi banyak pada masyarakat, selain masyarakat penjual juga masyrakat yang membutuhkan hiburan.

Penulis melihat bahwa gelar seni pertunjukan yang berlangsung dipandapa taman budaya cak durasim hanya melihat sebagai pertunjukan semata. Penulis sama sekali tidak berfikir akan nilai budaya atau nilai keindahan local serta wujud perilaku masyarakat banyuwangi yang terkandung dalam karya tersebut. Sejak pertama kali melihat tema pertunjukan penulis sudah mendap stimulah bahwa gelar seni budaya tersebut menjadi wadah penarik wisata, karena terlihat dari tema pertunjukan yang berbasis budaya lokan namun secara wujud tema berasal dari bahasa inggris. Dan yang lebih menyakinkan lagi ketika mendapat bingkisan yang betu banyak buku-buku yang membahas tentang budaya dan tempat wisata yang terdapat disetiap kabupaten wilayah jawa timur.

Mungkin ini sebuah kedangkalan bagi penulis dalam mrelihat sebuah fenomena tetapi menurutku mengamati fenomena social tidk cukup dalam waktu yang singkat, karena mendeskripsikan perilaku sekelompok masyarakat dalam wadah tertentu membutuhkan histori sebagai tolak ukur keberedaanya. Selain itu juga membutuhkan waktu panjang untuk mencari data yang valid.

Dalam melihat perilaku sekelompok masyarakat dalam satu wadah mebutuhkan waktu panjang diman kita membutuhkan nara sumber yang tepat dan mebutuhkan data yang berbetuk tulisan sebagai rangsangan awal untuk memfokuskan arah pencartian data. Penulis tidak dapat menjelaskan secara luas kontibusi gelar seni budaya ini terhadap masyarakat yang ada disekitarnya, namun dengan sedikit penjelsan diatas semoga dapat memberikan gambaran kecil buat pembanca bahwa sebuah kegiatan masyarakat tidak lahir begitu saja tanpa ada kolerasi dengan masyarakat yang lainnya. Gelar seni budaya yang bertema sunrise off java terbukti menarik perhatian banyak masyarakat dan memberikan kontribusi buat masyarakat baik diluar Surabaya maupun masyarakat Surabaya sendiri.

Jika melihat diluar dari konteks pertujukan itu sendiri juga terdapat kerajian-kerajinan khas banyuwangi dengan harga murah. Salah satu penjual mengatakan bahwa kehadiran mereka hadir memajang kerjinan tangan khas banyuwangi bukan sekedar menjual melainkan salah satu cara untuk memperkenalkan kerajinan tangan yangterdapat di banyuwangi karena kehadiran disini bukan semata-mata konteks menjual maka sangat wajar jika harga yang dipasang sedikit murah dibandingkan penjualan  kerajinan yang terdapat diluar taman budaya Surabaya.

Menurut penulis hal seperti itu juga merupakan kontribusi besar buat masyarakat yang membeli kerajinan tangan karena dengan adanya gelar seni budaya mereka dapat membeli kerajinan tangan yang lebih murah. Selain itu juga pengunjung dapat memberikan apresiasi sebagai penghargaan dalam kreatifitas orang lain.

Beberpa poin yang dapat memperlihatkan adanya kontribusi yang diberikan oleh masyarakat juga dan penulis mersa masih banyak kontribusi yang tidak sempat dijelaskan karena mungkin keterbatasan waktu dalam mengamati dan juga mungkin kedangkalan dalam melihat fenomena.

Kesimpulan

Gelar seni budaya daerah yang bertema sunrise off java merupakan salah satu cara pemerintah provinsi jawa timur dinas kebudayaan dan parawisata dalam meningkatkan ekonomi kreatif. Dimana sangat terlihat mulai dari pihak parawisata dan pemerintah daerah yang hadir memberikan sambutan selalu membicarakan tentang kekayaan alam dan kesenian yang ada dijawa timur. Selain itu juga terlihat akan banyaknya penjual yang mengelilingi pandapa pertunjukan dan penjual senganja dilahidr dan termasuk dalam konsep acara gelar seni budaya daerah tersebut.

Selain itu juga diperjelas dengan adanya bingkisan ya ng diberikan kepada penulis yang berisi tentang kesenian dan kekayaan alam sebagai tempat wisata yang terdapat disetiap kabupaten yang terdapat di jawa timur. Hal demikian yang menjadi ikon-ikon nyata yang mengantar pernyataan bahwa gelar seni budaya tersebut dalah salah satu cara pemerintah provinsi dinas kebudayaan parawisata jawa timur dengan upatya memperkenalkan budayanya dan kekayaan alam untuk menarik wisatawan guna meningkatkan pendapatan ekonomi dan membuka lahan penghasilan buat masyarakat jawa timur. Hal-hal diatas membawa pandangan penulis untuk melirik lebih jauh bagaimana parawisata mengupayakan kesejahteraan rakyat melalui ikon-ikon kesenian. Seiring dengan perkembangan jaman ini kesnian sudah diramuh menjadi semenarik mungkin suapaya dapat menarik perhatian banyak orang. Hal yang paling mendasar dan paling serin ditemukan diberbagai daerah adalah upaya-upaya seperti diatas. Satu hal yang sangat disayangkan jika kesenian daerah yang mepunyai nilai estetik yang tinggi dapat menjadi bahan keloh parawisata. Karena menurut penulis secara tujuan sudah sanagt kontras dan akhirnya seni kedaerahan tidak membangun prinsip dan nilai lokalitas lagi serta jauh dari penyampaian estetis yang berbasi nilai budaya.

Yang perlu disadari sekarang adalah karya seni daerah merupakan artefak dari peristiwa lampau dan jika dikreasuikan dalam bentuk kemasan yang menarik masyarakat secara umum menurutku kurang tepat. Kaerana perubahan bentuk juga dapat menjadi perubahan esensi. Disini terlihaty bahwa upaya-upaya parawisata dapat memberi kontribusi buat banyak masyarakat tetapi perlu dimengerti bahwa sesuatu yang lahir bukan berarti segalanya bermanfaat namun bisa memberikan kerugian buat hal yang lainnya.




[1]Lihat lagu dalam kaset kangen magetan
[2]http://www.beritalima.com/2015/03/14/gubernur-jatim-melalui-gelar-seni-budaya-perluas-pasar-umkm
[3]Dapat dilhat dalam salah satu buku yang diterbitkan oleh pemrintah provinsi jawa timur dinas kebudyaan dan parwaista yang diberikan sebagai bingkisan kepada mahsiswa isi jogja.
[4]Kalender Acara UPT Taman Budaya Jawa Timur Tahun 2015, (UPT Taman Budaya: pemerintah Provinsi Dinas Kebudayaan)